Rabu, 20 Agustus 2014

Surga Yang Terlupakan

Minggu, 10 Agustus 2014, saya berkunjung ke Pacitan, sebuah kota kecil di ujung selatan JawaTimur. Pacitan, kota yang terlupakan. Itulah sebutan yang tepat untuk kota kecil ini. terletak di sebelah selatan Provinsi Jawa Timur, sekaligus berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah, Pacitan merupakan kota terpencil yang dikelilingi oleh pegunungan.
Untuk mencapai kota ini, saya memerlukan waktu dua jam dari kota tempat tinggal saya yang terletak di Madiun. Jalanan ke Pacitan ini pun tak bisa dianggap mudah, karena untuk bisa sampai ke sana saya harus melewati jajaran dataran tinggi yang memisahkan kota saya dengannya. Sepanjang perjalanan, pemandangan dataran tinggi siap menyambut mata. Pun tak jarang akan dijumpai penumpang di mobil bak terbuka. Benar. Warga daerah Pacitan sering menggunakan mobil bak terbuka untuk angkutan ke daerah sekitar. Mereka akan berdiri di bak terbuka tersebut dengan sukacita yang tinggi. Khas orang Indonesia di pedesaan, mereka mengenal satu sama lain. Tak ayal mereka pun sering bercanda di mobil bak terbuka itu sambil berdiri (yang menurut saya sangat berbahaya). Pacitan, kota kecil dengan sejuta pesona.
Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Gua Gong. Gua yang disebut-sebut sebagai gua terindah di Asia Tenggara. Untuk mengaksesnya, saya memerlukan waktu sekitar satu jam dari kota Pacitan dengan perjalanan khas pegunungan, jalan berkelok-kelok dan naik turun, tentunya. Tiket masuk Gua Gong hanya Rp 5.000,00 per orang dan tarif parkir sepeda motor adalah Rp 2.000,00. Ketika sampai di tempat wisata ini, udara khas pegunungan tidak begitu terasa dikarenakan saking ramainya pengunjung di kawasan ini. Untuk mencapai gua ini dari tempat parkir hanya diperlukan lima menit jalan kaki.
Di perjalanan menuju mulut gua, akan ditemui banyak pedagang yang menawarkan jasa peminjaman senter (karena katanya guanya gelap dan jalanan tidak terlihat) seharga Rp 5.000,00 per senter. Saat itu saya tidak menyewa karena teman saya sudah membawa senter dari rumah (saya akui persiapan teman saya ini sangat komplit). Sesampainya di mulut gua, saya sudah merasakan hawa pengap dari dalam gua saking banyaknya orang yang ada di dalam gua. Dan benar saja, ketika saya masuk ke dalam gua, saya langsung merasakan sauna alam yang luar biasa. Gerah. Saking banyaknya orang di dalam gua sepanjang 300 meter itu. Untung saja di beberapa titik gua ada kipas angin super besar yang sedikit mengurangi rasa gerah di dalam gua.
Di dalam, saya baru mengetahui alasan di balik penamaan gua ini. Dinamakan Gua Gong dikarenakan stalaktit dan stalakmit yang ada di gua ini dapat berbunyi seperti gong ketika dipukul. Perjalanan sejauh 300 meter di dalam gua ini pun terasa singkat  karena gua ini ternyata benar-benar indah. Keindahan stalaktit dan stalakmit yang beradu serta warna-warni yang menghiasi gua ini bukan hisapan jempol semata. Mungkin sebutan gua terindah di Asia Tenggara benar-benar pantas disematkan untuk gua ini. Dan ya, di dalam gua ini benar-benar gelap walaupun sudah ada penerangan serta tangga yang tertata rapi. Keluar dari gua, saya disambut kata-kata ‘left nothing except footprints’. What a nice words! I think.
Tujuan kedua setelah Gua Gong adalah Pantai Klayar. Untuk menuju pantai ini, cukup meneruskan perjalanan dari Gua Gong dikarenakan kedua tempat ini searah. Namun bedanya, ketika ke Gua Gong, jalanan masih bagus karena beraspal. Sedangkan perjalanan ke Pantai Klayar masih jauh dari kata mulus. Jalanan sempit dengan banyaknya aspal tidak rata serta tikungan tajam dan naik turun, membuat jalan ke Pantai Klayar lebih asyik jika dilalui oleh kendaraan roda dua. Jarak antara Gua Gong dan Pantai Klayar sekitar 14 kilometer. Kira-kira seperempat jam perjalanan jika menggunakan motor dengan kecepatan sedang.
Dalam perjalanan ini, Anda benar-benar memahami filosofi kehidupan mengenai perjalanan menuju keindahan selalu disertai oleh perjalanan yang berliku dan terjal. Dan setelah perjalanan itu, Anda akan menjumpai keindahan itu. Pantai Klayar. Dengan tiket masuk seharga Rp 3.000,00 per orang dan Rp 2.000,00 untuk parkir sepeda motor, Anda akan dapat menyaksikan pantai ini. Pantai dengan karang dan tebing yang tersembunyi jauh di dalam gunung. Pantai yang selalu dibuai oleh ombak laut selatan. Pantai di mana akan anda lihat perpaduan kelembutan serta keganasan ombak laut selatan. Berbeda dengan pantai kebanyakan yang berpasir halus, Pantai Klayar mempunyai tekstur pasir yang kasar serta pantai dengan karang. Jadi pikirkan ulang jika anda ingin mandi di pantai ini.
Jika anda menelusuri pantai ini lebih jauh, anda akan menemukan tempat dengan tepian pantai yang tidak berkarang. Tidak luas memang, hanya selebar kurang dari 50 meter dan diapit oleh dua buah karang yang kokoh meskipun dihantam ombak ribuan kali tiap harinya, namun di sini Anda bisa bermain layaknya berada di pantai pasir walaupun ombaknya masih besar. Dan hal yang tidak boleh dilewatkan dari pantai ini adalah Anda harus naik ke karang yang mengapit pantai pasir ini. Untuk naik ke karang ini Anda akan ditarik biaya sebesar Rp 2.000,00 lagi. Hal ini dikarenakan karang ini berbahaya dan memerlukan pengawasan, dibuktikan saat beberapa menit setelah saya masuk ke sana, pintu masuk ke karang ini sudah ditutup karena laut sudah mulai pasang (saat itu saya belum menyadari jika hari itu adalah tanggal 13).
Di karang tersebut, Anda akan menjumpai celah karang yang dihantam oleh ombak bisa menyemburkan ombak tersebut dengan aliran air yang kecil namun dengan tenaga yang cukup kuat. Di sini, anda bisa melakukan adegan dalam film Step Up 3D di mana ada udara (namun di sini digantikan oleh air laut yang tentunya akan membuat pakaian anda basah) yang menyembur anda dari bawah. Anda bisa berdiri berhadapan dengan teman anda di celah tersebut karena celah tersebut benar-benar kecil dan tidak membahayakan.
Beberapa saat setelah itu, pengawas karang memanggil kami karena air laut sudah pasang. Dan saya ngeri betul ketika menyadari jika air laut yang tadinya masih jauh di bawah karang saat itu sudah naik kurang dari dua meter dari bibir karang. Jadi, mau tidak mau, saya harus segera turun dari karang agar tidak terbawa pasang. Note: kunjungi Pantai Klayar saat pagi menjelang siang karena di atas jam 2, biasanya air sudah pasang dan berbahaya.
Setelah Pantai Klayar, tujuan selanjutnya dan juga merupakan tujuan terakhir saya adalah Pantai Teleng. Akses ke pantai ini tak sesulit ke Pantai Klayar, karena pantai ini terletak cukup dekat dengan kota. Hanya memakan waktu 10 menit dari pusat kota, pantai Teleng seperti halnya pantai pasir yang bisa dijadikan kawasan berbasah-basahan. Untuk dapat memasuki pantai ini, tiket masuknya adalah Rp 5.000,00 per orang dan Rp 2.000,00 untuk parkir kendaraan roda dua. Anda bisa memarkir kendaraan Anda di sepanjang bibir pantai. Dan seperti pantai-pantai yang terletak di tengah kota, kawasan pantai ini lumayan kotor dan tidak terawat. Sungguh disayangkan untuk wisata pantai yang menjadi salah satu andalan di kota ini. Di Pantai Teleng Ria ini anda juga dapat berbelanja ikan laut macam ikan marlin, tengiri, tuna, dan lain-lain. Para pedagang rata-rata menjual dengan harga yang sama untuk tiap jenis ikan.
Saat saya sudah bersiap-siap untuk meninggalkan pantai ini, saya baru menyadari jika saat itu merupakan saat bulan super atau yang biasa disebut supermoon. Matahari yang sudah tenggelam di barat serta kemunculan bulan di timur dan laut lepas di depan mata benar-benar perpaduan yang pas bagi saya. Akhirnya saya berangkat pulang ke kota Madiun pukul 18.30 diiringi sinar supermoon yang terang benderang. Pacitan, benar-benar surga kecil yang terlupakan.
-------------

Andaikan Engkau Menjadi Aku

Andaikan engkau menjadi aku, tidak akan pernah terucap amarah dari bibirmu kepada dia.
Andaikan engkau menjadi aku, tidak akan pernah engkau biarkan emosi menguasai hingga ubun-ubunmu dan engkau limpahkan kepada dia.
Andaikan engkau menjadi aku, tidak akan pernah tega engkau mengatakan ‘tidak’ untuk setiap permintaannya.
Andaikan engkau menjadi aku, engkau akan rela melakukan apa saja untuk membuatnya tersenyum.
Andaikan engkau menjadi aku, tak akan pernah engkau temukan kata yang bisa menggambarkan ketulusan hatinya.
Andaikan engkau menjadi aku, engkau akan selalu menyertakan dia di dalam setiap munajatmu.
Andaikan engkau menjadi aku…
Andaikan engkau menjadi aku…
Dan sayangnya, engkau bukanlah aku. Dan tak akan pernah bisa menjadi aku.

***

Aku hanyalah sebuah barang yang selalu dia bawa ke mana pun dia pergi. Bukan benda berharga sepertimu memang, tapi katanya, aku selalu mengingatkannya tentang dirimu. Dia selalu membawaku di saku baju lusuhnya, yang jahitannya sudah terkoyak karena usia yang tentunya memakan waktu yang lama.
Kau tahu? Di saku ini aku selalu bisa memperhatikannya. Segala kelelahannya, keletihannya, semuanya. Aku bisa melihatnya. Tapi anehnya, dia tak pernah mengeluh walaupun semua aral menghunjamnya, menusuknya hingga bernanah. Apalagi jika dia merogoh kantung bajunya dan melihat aku, dia akan tersenyum bahagia. Seolah itu semua bukan apa-apa. Aku bukanlah benda berharga, tak seberharga dirimu memang, tapi aku selalu dibawanya. 
“Ini kubawa agar aku bisa selalu mengingat dirinya saat dia jauh.” Itu yang dikatakannya kepada orang-orang yang bertanya kepadanya mengapa dia membawa barang kumal seperti diriku.
Padahal andaikan engkau tahu, dia selalu mengingatmu dalam setiap waktunya. Sebenarnya dia tak butuh aku, tapi dia selalu membawaku di dalam kantung baju safarinya. Aku memang tak seberharga dirimu baginya, tapi aku jauh lebih mengerti semua pengorbanan yang dia lakukan untukmu dibandingkan dirimu.
Pernah suatu waktu dulu, ketika engkau sudah mulai bisa memanggilnya, dia menangis sesenggukan dan menggunakan aku sebagai pengusap air mata sucinya. Dia menangis bahagia untukmu. Apa engkau tahu itu? Ketika engkau lahir ke dunia ini dan untuk pertama kalinya aku dia kenakan kepadamu, hingga saat ini ketika engkau sudah beranjak dewasa dan mulai melupakan asal-usulmu. Benar, aku adalah helaian kecil kain jarit yang dia gunakan untuk membungkus tubuh merahmu ketika engkau baru lahir dahulu. Dia sengaja memotong-motong bagian diriku agar bisa dibawanya ke mana pun dia suka.
Apakah engkau tahu? Apa yang telah dia lakukan ketika engkau masih terbungkus olehku? Mungkin engkau tahu dari cerita. Dan kali ini sama. Aku akan menceritakannya padamu. Karena engkau bukanlah aku, dan engkau tidak akan merasakan yang sama dengan apa yang telah kusaksikan sepanjang tiga windu ini.

***

Dulu aku adalah kain jarit yang paling indah motifnya di antara rekan-rekanku. Dan dia menemukanku, di antara tumpukan kain yang berjejer di pasar. Aku ingat saat itu, dia sedang berbadan dua dan datang dengan daster bunga-bunga yang terlihat kampungan. Dia sangat hati-hati dalam memilih kain untuk buah hatinya. Hingga dia menemukanku. Kain jarit coklat bercorak dengan gradasi warna hitam. Bukannya aku sombong, tapi aku adalah yang terindah saat itu. Baik untuk warnaku, motifku, hingga bahanku. Dan tentunya hargaku juga tak murah untuk kalangan bawah. Tapi dia memilihku, wanita berbadan dua yang mengenakan daster murahan.
“Tidak apa mahal, ini untuk anakku.” Itu yang dikatakannya kepada penjualku. Padahal dengan membeliku, dia akan menghabiskan seluruh uang yang dibawanya ke pasar di kampung itu. Alhasil dia pun membawaku, dengan senyuman puas karena dia bisa memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Itu adalah awal pertemuanku dengannya. Wanita berbadan dua dengan daster bermotif  kampungan.
Andaikan engkau menjadi aku, engkau akan tahu jika dia membesarkanmu dengan hati-hati. Dengan seluruh cinta yang dipunyainya, yang tidak akan pernah lekang oleh waktu, bahkan oleh kata-kata kasarmu.
Engkau masih bertanya kepadaku mengapa aku bisa berkata begitu? Baiklah, akan kuceritakan satu lagi kepadamu. Cerita yang bahkan aku pun sanggup membencimu. Tapi dia, selalu bisa memaafkanmu.
Dia bukanlah wanita kebanyakan yang bisa membagi waktunya untuk bersolek dan berpesta bersama teman-temannya. Justru dia adalah wanita yang membagi waktunya dengan nyawanya. Hanya untuk menafkahimu. Memberikannya apa yang dirasanya itu terbaik untukmu.
Seperti yang engkau tahu, engkau sudah ditinggalkan bapakmu sejak engkau masih delapan bulan di kandungan. Dan dia membesarkan dirimu hingga saat ini, tiga windu setelah aku pertama berjumpa dirinya di pasar kumuh yang sekarang sudah menjadi gedung menjulang. Dia terus bekerja, tak kenal lelah agar bisa membawakanmu makanan sepulangnya agar perutmu kenyang. Andaikan engkau tahu, demi makananmu itu, dia hanya makan sekali sehari, kadang hanya minum air dalam kurun waktu dia membuka mata hingga dia memejamkannya lagi.
Dan dia berjuang bertaruh nyawa. Seperti yang engkau tahu, dia bukanlah pekerja kantoran yang mempunyai penghasilan tetap dan pakaian necis. Dia hanyalah tukang parkiran yang ada di pinggir jalan. Andaikan engkau tahu, dia mempertaruhkan nyawanya setiap hari demi dirimu. Berada di jalanan yang dilewati truk dan kendaraan besar-besar. Tapi dia tak pernah mengeluh, karena yang dia tahu hanyalah memberikan makan untuk anak yang menungguinya di rumah.
Memang, dia tak seperti wanita lain yang bisa membelikan apa saja untuk anaknya. Dia hanya mengatakan ‘nanti’ ketika engkau meminta sesuatu dari dia. Dan engkau selalu mendahulukan emosimu bukan ketika dia menjanjikanmu begitu? ‘Lagi-lagi nanti, lagi-lagi nanti’. Itu pikirmu. Tapi tahukah engkau jika dia merasa nelangsa ketika dia tak mampu menuruti inginmu?
Bahkan ketika engkau membanting pintu di depan wajahnya saat engkau meminta handphone karena teman-temanmu sudah memilikinya dan dia seperti biasa hanya mengatakan ‘nanti’, dia hanya menangis tanpa suara di dalam ruangan yang engkau tinggalkan. Diggigitnya bibirnya hingga berdarah, agar engkau tak mendengar isakannya. Agar engkau tidak mengkhawatirkan dirinya. Karena dia tidak mau membuatmu khawatir. Yang dia inginkan hanya melihat engkau bahagia.
Lalu ketika dia sudah berhasil memberimu barang yang engkau pinta, engkau bahkan tidak memeluknya atau menciumnya atas kerja kerasnya. Engkau hanya tersenyum tersipu sambil menciumi handphone yang engkau pinta. Dan apa yang dia lakukan? Dia juga tersenyum melihat engkau begitu. Karena dia tahu engkau bahagia.
Masih ingin aku ceritakan kelakuanmu yang bahkan bisa membuat lambungmu memerah jika engkau mengingatnya? Maka akan kuceritakan lagi kalau begitu.
Ingatkah ketika engkau mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikanmu ke luar kota? Ingat apa yang engkau lakukan? Apa yang engkau sampaikan kepadanya? Aku akan menguak sedikit memorimu yang mungkin sudah sedikit sirna oleh waktu.
Waktu itu engkau menghambur ke pelukannya. Menciuminya dengan cara yang tidak pernah engkau lakukan sebelumnya. Memberitahunya bahwa engkau mendapatkan beasiswa dan akan pergi meninggalkannya. Untuk menuntut ilmu, katamu. Namun sebenarnya dalam lubuk hati kecilmu engkau bahagia karena engkau akan pergi meninggalkannya. Meninggalkan kehidupan delapan belas tahunmu dan menyongsong kehidupan baru di kota tujuanmu. Engkau bahagia karena akan terlepas darinya. Makanya, engkau memeluknya dengan cara yang tidak biasa.
Tapi tahukah engkau ketika engkau meninggalkan ruangan, lagi-lagi dia menangis pilu dalam dekapanku, kain jarit lusuh yang tidak berharga bagi orang-orang, bahkan bagimu. Dia menangis bukan karena engkau tinggalkan, akan tetapi dia menangis karena bahagia melihat engkau selangkah lebih dekat dengan impianmu. Dia menangis karena mengkhawatirkan dirimu, bagaimana engkau bisa hidup di luar sana seorang diri padahal selama delapan belas tahun ini engkau tak pernah lepas dari dirinya. Bukan, dia bukan menangis karena engkau akan meninggalkannya. Dia menangis karena mengkhawatirkan keadaanmu.
Bahkan hingga kini pun, ketika engkau sudah terlalu terlena dengan kehidupanmu, dia masih dan selalu mengkhawatirkan dirimu. Walaupun kini engkau sudah merasa dewasa dan mengirim uang bulanan untuknya, dia masih mencemaskanmu.
Tahukah engkau jika dia selalu mendekapku dalam tidurnya? Hanya untuk mengingat baumu yang lama sudah tak pernah menghampirinya. Dan tahukah engkau jika setiap sore dia selalu duduk di dipan depan rumah? Itu dia lakukan untuk menyambut kedatanganmu. Padahal kedatanganmu tak pernah lebih dari setahun dua kali, tapi dia tetap setia menunggu di dipan itu.
Dia tak pernah melupakanmu dalam doanya. Dalam setiap hembusan nafasnya, dia selalu meminta kepadaNya untuk keselamatanmu. Dia tak pernah mengharapkan lebih. Dia hanya menginginkan keselamatanmu dalam menjalani kehidupanmu.
Andaikan engkau tahu, sekarang usianya sudah tak lagi muda. Kakinya sudah tak mampu lagi menopang tubuh limbungnya. Dan pernahkah terbersit dalam pikiranmu, apa yang sudah engkau lakukan untuknya? Memberikan uang bulanan, jawabmu? Pernahkah terpikir olehmu jika dia tak hanya memberimu uang bulanan bahkan tahunan? Dia juga telah membesarkanmu. Menjadikanmu pribadi seperti engkau sekarang ini.
Ah, andai engkau meluangkan waktumu barang sejenak untuk menyimak ceritaku, mungkin saat ini pikiranmu sudah melayang kepada sosok wanita nomor satu di dalam hidupmu itu. Cobalah barang sebentar saja, luangkan waktumu untuk mendengarkan suaranya. Lebih-lebih jika engkau mau menemuinya dan memeluknya. Aku yakin, aku yang menjadi teman tidur dalam setiap malamnya tak akan berarti apa-apa. Aku yang yang menjadi tempat mengusap air matanya yang mengalir karena engkau akan menjadi barang tak berharga seperti yang selalu engkau katakan kepadanya. Karena dia hanya akan memperhatikanmu. Karena engkaulah sesungguhnya hartanya yang paling berharga.
Engkau hanya menyimak ceritaku bukan? Engkau bahkan belum menjadi diriku. Bahkan, bumi dan benda-benda mati sepertiku ini bisa memahami ketulusan kasihnya. Dan sekarang pikiranmu sudah penuh dengan kelakuan-kelakuanmu terdahulu yang selayaknya tak engkau berikan kepadanya. Menyesalkah engkau?
Andaikan engkau menjadi aku, aku yakin engkau tak akan pernah berkata kasar kepadanya.
Andaikan engkau menjadi aku, engkau tak akan menemukan hal yang lebih berharga selain melihat senyum di wajahnya yang sudah mulai keriput.
Andaikan engkau menjadi aku, maka engkau tak akan pernah rela meninggalkan dia barang sebentar. Dia yang telah menjagamu semenjak engkau masih merah hingga engkau menjadi orang dengan baju berkerah.
Andaikan engkau menjadi aku, maka yang akan engkau lakukan sekarang adalah memanggil sebutan yang selalu engkau berikan kepadanya.
Andaikan engkau menjadi aku…
Andaikan engkau menjadi aku…
Dan sayangnya, engkau tidak pernah menjadi aku.
***

KETIKA KAU MENYEBUTNYA CINTA

Aku sudah lelah mendustaimu. Lama. Aku hanya menyimpannya seorang diri di sini. Beginikah cara kerja sesuatu yang dinamakan cinta? Merindukannya siang dan malam layaknya orang gila, mendapatkan hatinya, kemudian menginjak-injaknya layaknya bagkai tak berharga. Beginikah cara kerja sesuatu yang disebut cinta? Mengutarakan kata demi kata mesra, namun di baliknya mengingkarinya dalam keheningan. Aku sudah terlalu letih mendustaimu dalam diamku.
Bukan. Ini bukan salahmu. Namun ini hanyalah kepengecutan yang melandai diriku. Aku sudah lelah menafikan cinta. Hanya dengan satu tindakan, bahkan dirimu pun tidak dapat aku gapai dalam kenanganku. Maafkan aku yang tidak bisa jujur kepadamu. Maafkan aku yang mempunyai mulut dengan seribu kata. Maafkan aku yang menjanjikan semua untukmu namun kubalikkan semua itu dengan satu perbuatanku. Maafkan aku…
Aku mencintaimu. Sangat. Bahkan seluruh kehidupanku seolah untukmu. Tindak-tandukmu menjadi kesakralan bagiku. Aku mencintaimu. Lebih daripada yang kau tahu. Aku mencintaimu…
Kau katakan kepadaku jika kau tak tahan memiliki diriku yang tak bisa mengepakkan sayapku. Dan untuk itulah aku terbang. Untukmu. Bebas di angkasa untuk kemudian pulang ke peraduan. Namun sekali waktu, aku terbang terlalu tinggi, hingga matahari melumpuhkan sayapku.
Dan aku berpeluh. Dengan sayap yang sudah tak lagi kumiliki, kuberjalan meniti hari, menuju sangkarmu. Dan di sana, kau menungguku, dengan tangan terbuka siap memeluk tubuhku. Dengan lengan hangat yang selalu mengayomiku. Engkau yang kucintai, selamanya kucintai.

***

‘Sayang, sedang apakah?’
Kuraih handphone-ku dan mendapati pesan instan darimu yang selalu hadir ketika matahari masih terkantuk-kantuk di ufuk timur.
‘Menulis.’ Jawabku singkat. Dan tak usah kumenunggu lama, handphone-ku langsung menampakkan huruf ‘r’ di pesanku itu.
‘Untuk cerpen barumu?’
Kutarik nafas dalam-dalam barang sebentar, lalu kuketikkan jemariku di atas keypad ponselku.
‘Bukan.’ Kataku. ‘Untuk kamu.’
‘Untukku?’ balasnya lagi. ‘Apakah itu?’
Aku tersenyum kecut membaca pesannya. Untunglah dia sekarang tak ada di depanku. Jika tidak, pasti dia akan menangkap keanehan dalam rona wajahku.
‘Nanti…’ tulisku lagi. ‘Ketika kita bertemu lagi, akan kusampaikan kepadamu.’ Janjiku.
Sudah terbaca olehnya pesanku itu, namun belum juga dibalasnya. Tiga detik. Lima. Hingga tiga belas detik. ‘Okayy.’ Akhirnya dia menuliskannya.
Aku menarik nafas panjang, seolah itu adalah nafas terakhir yang harus kusimpan untuk sisa kehidupanku. Kupejamkan mataku, membayangkan apa yang akan terjadi jika dia mengetahuinya. Dia yang berada jauh ratusan kilometer jaraknya dariku saat ini.
‘Aku mencintaimu.’ Tulisnya lagi.
Ini dia. Batinku. Lagi, kupejamkan mataku rapat-rapat, berusaha mengenyahkan ingatanku tentang kejadian yang menghantuiku. ‘me too.’ Balasku. Dan aku tertawa ketika membacanya lagi. Me too. Me too, kataku. Lalu apa yang kau lakukan beberapa hari yang lalu? Tanyaku pada diriku sendiri.

***

“Saka, maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku?” kata Raga kepadaku, di sebuah kafe bernuansa rindang dengan kursi-kursi kayu yang ditata apik.
Mataku berkaca-kaca. Sungguh, inilah yang aku tunggu-tunggu seumur hidupku. Ketika lelakiku mengucapkan kalimat ini kepadaku. Laiknya cermin yang berair, maka Raga akan melihat bayangannya di mataku yang sudah dipenuhi air mata ini.
Dia tersenyum lembut, masih sama seperti senyum pertamanya sejak aku mengenalnya. Sungguh, dialah lelakiku. Lelaki dambaanku.
Seharusnya, aku langsung saja menganggukkan kepalaku untuk menyetujui perkataannya. Atau mungkin aku bisa saja memeluknya di kerindangan kafe ini, tanpa mempedulikan tatapan dari pengunjung lain. Toh dia lelakiku. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Tidak. Aku benar-benar tidak bisa melakukannya. Jadi aku menggeleng. Meskipun itu akan meremukkan hatiku…
“Kenapa?” tanyanya bingung. Kulihat pendar senyum kekanakannya yang tadi mengembang di wajahnya pupus sudah. Berganti tatapan kebimbangan.
“Tidak bisa. Aku tidak baik untukmu.”
Dia menggenggam tanganku yang sedari tadi kuletakkan di atas meja.
“Itu hanya perasaanmu. Kau selalu baik untukku.” Kini senyum lembut itu mengembang lagi di wajahnya.
Aku melihatnya dengan keseluruhan hatiku yang hancur. Kugelengkan kepalaku kuat-kuat. “Tidak. Aku tidak baik.” Kataku ngeyel.
Diremasnya tanganku yang sudah dikuasainya. “Kenapa berpikir begitu?”
Ini dia. Ini dia pertanyaan yang kurasa akan meluluhlantakkan diriku. Dan jawabanku pun akan menghancurkan dirinya, lelaki yang kucintai itu.
“Aku sudah menulisnya di sini.” Kutarik tanganku dari genggamannya dan mengambil sepucuk kertas dari tasku.
Dia mengerutkan dahinya. “Kenapa tidak kau katakan langsung?”
Kugigiti bibirku. Gugup. “Kau selalu tahu jika aku tidak pandai berbicara. Makanya kutuliskan itu untukmu.”
Ditatapnya diriku dengan penuh rasa penasaran. Dia mengedikkan bahunya, lalu mulai membuka kertas itu.
“Tunggu!” perintahku.
Dia terhenti.
“Biarkan aku pergi dulu, baru kau baca itu.”
Dia semakin menautkan alisnya yang indah itu. “Kenapa?”
“Sudahlah. Pokoknya lakukan itu.” Pintaku.
Lagi, dikedikkannya bahunya yang berotot itu.
“Aku akan pergi sekarang, biar kau bisa segera membacanya.”
Dia hanya mengangguk.
“Aku mencintaimu.” Kataku sambil bersiap meninggalkannya.
“Aku ju…” kuputus kalimatnya itu dengan jari telunjukku.
“Katakan itu setelah kau membacanya.”

***

Dan aku berpeluh. Dengan sayap yang sudah tak lagi kumiliki, kuberjalan meniti hari, menuju sangkarmu. Dan di sana, kau menungguku, dengan tangan terbuka siap memeluk tubuhku. Dengan lengan hangat yang selalu mengayomiku. Engkau yang kucintai, selamanya kucintai.
Bahkan rasanya, ketika dirimu datang ke kehidupanku, alam semesta seolah menunjukkan kuasanya kepadaku. Kau membebaskanku dari sangkar emasku. Aku menemukan diriku. Terima kasih untukmu.
Namun aku terbang terlalu bebas, hingga aku melupakan dirimu. Aku mencumbu dirinya, tanpa aku teringat kepadamu. Maaf kepadamu.
Namun aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.
“Aku juga mencintaimu.” Suara Raga memenuhi telingaku.
Dia meneleponku, saat aku sudah berada di kereta menuju rumahku. Sangkar emasku. Mataku berkaca-kaca.
“Kau memaafkanku?” tanyaku terisak.
“Aku mencintaimu.” Hanya itu jawaban yang kudengar dari telepon yang menghubungkan diriku dan dirinya itu.
-END-

Selasa, 19 Agustus 2014

Separuh Mati

Kau sudah lelah. Semangatmu telah patah. Bukan karena kau menyerah, namun karena dia tak pernah berubah. Kau menyebutnya sebagai kekasih. Namun dia menganggapmu sebagai teman dari jauh. Bertahun-tahun kau menahan sesak di dadamu, tapi kau masih tetap bertahan. Hanya karena sebuah harapan. Padahal kau tahu pasti, harapan itu tak lebih kuat dari seutas benang.
Kau sudah letih. Hatimu tahu itu. Namun kau tetap gigih. Kau dayakan segala asamu untuk berpegang padanya. Harapan yang kau tahu pasti tak sekokoh tiang gantungan.  Hanya saja, kau masih berharap, kepada angin yang berbaik hati mendesaukan namamu di telinganya, kepada rintik hujan yang kau tahu akan membuat memorinya terisi tentangmu, bahkan kepada terik matahari yang sinarnya menyilaukan matamu.
Kau tahu pasti, dia tak selalu bisa menunggumu. Namun kau akan selalu bisa menunggunya. Satu, dua, tiga, ataupun puluhan tahun berlalu, kenanganmu akan selalu terisi olehnya. Kenangan yang tak kunjung bosan berkunjung kepadamu hingga kau pun lelah menjamunya. Hingga kau mempersilakannya masuk seakan memorimu adalah rumahnya. Karena, kau sudah lelah. Kau sudah terlalu letih untuk tetap mengharapkannya.

***

Aku selalu yakin, jika aku akan bertahan dalam keadaanku ini.  Walaupun nestapa selalu menyapaku ramah, hingga mungkin bahagia terlalu letih untuk sekedar berkunjung kepadaku. Namun aku yakin, jika kau pun akan bertahan untukku. Di sana. Di tempat yang akan kita tuju bersama.
Aku ingat jika kau selalu menyemangatiku, untuk hal-hal bodohku. Kemudian mengatakan, “ Aku mengharapkanmu.” Dengan senyum lembutmu.
Aku juga mengingat saat kita berteduh di rindangnya tenda angkringan pinggir kali kumuh itu. Kita bahkan tak mempedulikan tawa sinis orang sekitar. Toh, mereka tak tahu jika di situ itu ada keindahan yang tak pernah mereka sangka.
Kita berdua menyaksikannya. Matahari mega yang berpulang ke peraduan. Perpaduan nila serta jingga dengan semburat kemerahan. Kemewahan surgawi yang hanya didapatkan orang beberapa. Dan aku melihatnya. Bersamamu. Di pinggir kali kumuh itu. Menurutku, itu salah satu tanda jika kau memang untukku. Pun aku, memang untukmu. Bukankah Tuhan selalu memberikan saat yang tepat ketika kita menemui orang yang tepat? Karenanya, aku masih mempertahankannya. Mempertahankanmu. Meskipun hati ini rasanya bagai disayat sembilu.
Ah, aku selalu ingat. Kita mempunyai kenangan tentang matahari, angin, serta hujan. Bahkan alam berkonspirasi untuk kisah kita bukan? Dan aku mempercayainya, jika Tuhan sudah mempersiapkan akhir yang indah untuk kita.
“Bukankah kau terlalu naif?” kata karibku kepadaku, setelah bertahun-tahun melihatku masih berharap kepadamu.
Bukannya aku tak menyadari kenaifan diriku, namun aku masih berpegang teguh pada keyakinanku untukmu. Pada tanda-tanda yang diperlihatkan Tuhan kala kita bersama. “Aku tahu. Tapi tanda-tanda itu terus mengusikku.”
Karibku menghembuskan nafasnya. Panjang. “Kau hanya terlalu berharap. Padahal kau tahu itu hampir-hampir mustahil.”
Aku tersenyum kecil, bahkan rasanya senyum ini tak jua membawa kebahagiaan untukku. “Bukankah manusia akan terasa menyedihkan jika tak mempunyai harapan?”
“Namun harapanmu tak lebih tipis dari selembar kertas ini.” Dia memperlihatkan selembar kertas yang sedari tadi dipegangnya. Buram. Lalu dia meremasnya, dan merapikannya kembali. “Dan kini harapanmu layaknya kertas buram kumal ini.”

***

Kau mulai menyadarinya, perlahan. Namun itu selalu pasti. Tanda-tanda yang kau bangga-banggakan itu kini mulai lenyap. Alunan nada yang biasa berdendang di telingamu pun mulai pudar. Sunyi. Bahkan ketika mentari menampakkan semburat jingganya, kau tak lagi merasakannya. Rasa bahagia ketika dia di sampingmu dan menggenggam tanganmu.
Namun kau selalu menafikannya. Kau tak acuh. Selalu menjaga angan kosongmu dengan mengatakan pada dirimu, “Aku masih menunggumu. Aku tak pernah lelah dengan keadaan ini.” Dan tahukah kau apa akibatnya? Ketika kau melakukan semua ini, bahagia meninggalkanmu perlahan. Senyum serta kesetiaan terasa layaknya dongeng dari masa lampau. Namun kau selalu melakukannya. Tersenyum layaknya orang bodoh dan memegang tali harapan kuat-kuat. Hingga jemarimu melepuh tertusuk kuku. Hingga tanganmu kebas, terlanjur ngilu. Ah, kenapa kau selalu begitu? Kau terlalu dalam menjerumuskan diri dalam kesetiaan.
“Aku mengharapkanmu.” Lagi, kau terngiang kata-katanya. Bukankah itu sihir yang mengutukmu menjadi putri kelabu? “Tunggulah aku. Aku akan kembali kepadamu.” Dan sihir itu lengkaplah sudah. Kini kau menjadi putri kelabu yang tak akan terbangun tanpa ciuman dari dirinya.
Bukankah kau selalu mengatakan kepada dirimu? Kau bisa melakukannya. Sendiri. Kau tak membutuhkan siapa pun untuk mencapai anganmu. Tapi kini, sepertinya dia tak pernah membiarkanmu melakukannya. Dia malah membuatmu menjadi manusia tak dewasa. Merengek pada kehidupan, hingga akhirnya kau genggam harapanmu kuat-kuat, layaknya anak kecil yang mempertaruhkan segalanya demi mainan di tangannya.
Lalu, kau butakan mata dan tulikan telingamu. Kau hanya dengarkan apa yang ada hubungannya dengan dirinya. Selain itu, kau tak pedulikan. Semuanya kau hindarkan. Hanya karena kau tak ingin lagi mendengar ejekan orang-orang. Kau terlalu lugu! Kau hanyalah satu dari sekian korban yang mengatasnamakan itu sebagai suatu hal yang sakral. Andai kau memaknai kesakralan itu sebagai sesuatu yang lain. Sebagai suatu hal yang membawamu kepada suatu keabadian. Bukan angan semu yang hanya kau impikan.

***

“Sadarlah! Kau sudah terlalu lama menunggu!” lagi, karibku mengingatkanku tentang waktu penantianku.
Bukannya aku sombong, namun aku sendiri sudah terlalu fasih menyebutkan tentang waktu. Tentang berapa lama aku menunggumu. Itu sudah mengetal dalam ingatanku. Rentang waktu yang tak bisa kusebut sebentar. Namun tak pula bisa kusebut lama untuk suatu hal yang disebut kesetiaan.
“Sepuluh tahun kau habiskan layaknya orang gila untuknya. Kau sudah tak muda lagi...”
“Aku tahu.” Kataku. “Aku jauh lebih tahu tentang waktu daripada dirimu.”
Karibku mengedikkan bahu. Lalu memandangku iba. “Entah kau itu bodoh atau setia. Kadang dua kata itu sukar dibedakan.”
Dan aku hanya tersenyum kecut mendengarnya.

***

Nah, kini kau meraung-raung dalam tangismu. Setelah kau tahu apa yang terjadi kepadanya. Satu dasawarsa dia meninggalkanmu. Dan kau mengatasnamakan kesetiaan untuk diam menunggunya. Lalu kini? Bukankah waktu terasa menertawaimu? Mengejek ketololanmu, kekeraskepalaanmu untuk tetap berada di jalur yang kau sebut sebagai tanda. Bukankah kau sudah menyadarinya? Ketika tanda itu mulai hilang perlahan, ketika bahkan kau tak menyadari keberadaannya di dalam alam nyata maupun khayalmu.
Tanda-tanda itu mulai menjauh, namun kau tak kunjung melepasnya. Ah, andai kau melepasnya sedari dulu, mungkin sekarang kau tak lagi terkungkung dalam nestapamu. Bebas. Lepas. Tak lagi kau menunggu pangeran yang membangunkan warna-warnimu. Ah, andai kau mampu untuk melepasnya dulu, tak akan kau sia-siakan masamu.
Kini kesetiaan yang kau agung-agungkan sudah beralih rupa. Dia yang kau tunggu pun sudah lupa. Bukankah kau juga berpikir demikian? Setelah kau menerima selembar kertas darinya dan namamu berada di kolom tamu undangan.
-END-

Selasa, 03 September 2013

Thing Talks



Tik… tik…tik… Aku mendengar suaraku yang sedang bekerja saat ini. Ditatap oleh pemilikku yang sangat kusukai sekaligus orang yang sangat tak kupahami.
Tik… tik…tik… Aku masih mendengar diriku bekerja keras. Menyusun kata per kata hingga akhirnya menjadi satu rangkaian kalimat. Pemilikku nampaknya sedang terburu-buru, dia menekanku dengan kecepatan yang tak biasa.
Tik… tik…tik… Ah! Akhirnya kalimat-kalimat panjang itu sudah selesai. Sekarang aku sedang merasakan adanya tugas lain yang akan kukerjakan. Dan ya! Pemilikku memberikan perintah kepadaku. Dan aku pun melakukannya.
‘Sore, Om… ini Vera yang kemarin bertemu di pameran. Vera ingin bertemu dengan Om Deni. Om bisanya kapan?’
Sent! Akhirnya aku menyampaikan kata itu kepada pemilikku. Kulihat senyum tipis di bibirnya. Tak berapa lama aku mendapat panggilan dari rekanku. Ah! Aku harus menyampaikan hal ini pada pemilikku. Dengan panggilan berupa nada beep dan lampu LED oranye yang berkelap-kelip di bagian kiri atasku, aku berhasil memanggil dia.
Dia meraihku yang tadi diletakkannya di meja. Mengecek pesan yang baru saja aku terima dari rekanku itu.
‘Sore, Vera. Wah, kebetulan Om juga ingin bertemu Vera lagi. Bagaimana kalau jam 8 malam ini kita bertemu di Restaurant Hotel Shangrila?’
Wah, aku melihat senyum mengembang di wajah pemilikku. Dia terlihat cantik jika tersenyum seperti ini.
Dia kemudian kembali mempekerjakanku, menekan-nekan keypad yang ada di tubuhku. Lagi, dengan kecepatan ekstra yang membuatku ingin menjerit. Tapi ups! Aku tidak bisa menjerit jika tak ada tugas yang harus kulakukan. Jadilah aku diam saja.
‘Iyaa Om… Vera akan datang jam 8 nanti. Tidak sabar untuk bisa ketemu Om Deni lagi.’
Dan aku melakukan tugas yang sama sekali lagi. Setelah tombol sent ditekan, aku harus berkolaborasi dengan rekanku yang merupakan operator seluler untuk menyampaikan pesan ke tujuan.
“Gimana, Ver?” Ow… aku mendengar suara yang bukan merupakan suara pemilikku. Sepertinya aku ingat suara nyaring ini. Dia adalah yang disebut pemilikku sebagai teman baiknya. Tapi aku tidak menyukainya. Hal ini karena… yah, karena setidaknya aku tahu dia orang yang bagaimana melalui pesan-pesan yang dikirimnya ke pemilikku dengan menggunakan jasaku.
“Nanti malam jam 8.” Aku melihat pemilikku membentuk huruf ‘o’ menggunakan jari jempol dan telunjuknya.
“Kamu benar-benar hebat, Veraaa… Pokoknya malam ini harus sukses! Kamu tahu kan Om Deni itu pengusaha besar. Uangnya banyak. Syukur-syukur kamu bisa jadi simpanannya.” Nah! Ini salah satu alasan aku tidak menyukai orang ini.
“Aku nggak mau jadi simpanan, Lun.”
“Lagi-lagi kamu bicara begitu. Ingat ya  Ver, kita jadi SPG itu biar bisa ‘makan’ lelaki-lelaki hidung belang macam begini. Mereka itu mangsa empuk.” Aku benar-benar tidak menyukai cara bicara orang ini. Nada bicara maupun suaranya benar-benar membuatku sakit tanpa alasan.
“Itulah bedanya kita, Luna.” Akhirnya pemilikku meraihku dan berdiri dari kursinya. “Aku pergi dulu. Bye.”
Tampaknya teman baiknya itu sedang melongo di kursinya. Tapi entahlah, itu benar dilakukannya atau tidak, karena aku tidak melihatnya dan tak mau melihatnya.

Layarku sudah menunjukkan pukul dua puluh lebih tiga belas menit saat ini. dan aku sedang berada di dalam kegelapan. Ya, aku sedang berdesak-desakan bersama dompet abu-abu di tas tangan kecil yang menjadi favorit pemilikku. Dan ukh! Di sini benar-benar sempit. Aku tidak bisa bergerak dan melihat apapun. Tapi tunggu! Aku sepertinya bisa mendengar suara pemilikku. Suara indah yang agak serak ini selalu menjadi favoritku. Tapi… sepertinya aku mendengar satu suara lagi yang tak kukenal. Siapa dia? Aku tak suka mendengar suaranya.
“Kamu benar-benar cantik mengenakan gaun hitam itu, Vera. Benar-benar cantik…” suara itu terdengar mesum bagiku. Menyebalkan! Kenapa pemilikku mau-maunya berbicara dengan orang macam ini sih?
“Terima kasih. Om juga terlihat gagah dengan setelan jas itu.” Aku bisa membayangkan pemilikku melemparkan senyum manisnya ke orang itu. Aku sungguh tidak suka!
Bukannya apa-apa, tapi membayangkan orang itu dari suaranya saja rasanya aku sudah muak. Apalagi jika aku melihatnya langsung. Mungkin aku bisa protes ke pemilikku dengan menge-hang-kan diriku. Hmm… kelihatannya ide itu patut dicoba.
Aku berusaha menajamkan daya dengarku untuk bisa mengetahui percakapan mereka. Namun yang kudengar hanya sayup-sayup suara yang bergelontang. Mungkin mereka sedang makan. Baiklah, kalau begitu aku juga akan diam sekarang.

‘Vera, mulai sekarang jangan temui ataupun menghubungi Om lagi.’
Itu adalah pesan yang kusampaikan ke pemilikku beberapa bulan setelah acara makan malam itu. Aku melihat pemilikku sedang menatapku dengan tatapan kosong. Lalu dilemparkannya aku ke kasur, dan dia menyusul, menghempaskan dirinya ke tempat tidur double bed yang terletak di kamar seluas empat kali enam meter ini. Sunyi. Aku tidak mendengar suara apapun darinya. Hanya ada suara dengungan AC di suhu delapan belas derajat Celcius ini. 
Di saat seperti ini aku harus menghibur pemilikku. Tapi apa yang harus kulakukan?
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh rekanku. Dengan kecepatan cahaya dia memanggilku, ketika aku belum siap, kecepatan suara menyusul, membuatku menyanyikan lagu Jar of Heart. Baiklah, yang menyanyikannya memang Christina Perri, tapi untuk mendengarkan itu kan menggunakan jasaku...
Aku merasakan pemilikku meraihku, memencet tombol hijau yang berada di pojok kanan bawahku.
“Halo…”
“Halo Vera, kamu di mana sekarang? Nggak lagi sama Om Deni kan? Eh, aku ada job nih buat kamu.” Suara itu lagi. Suara nyaring yang kubenci.
“Aku udah putus sama Om Deni.”
What??? Kapan? Kenapa kamu nggak ngasih tahu aku, Ver?”
“Udahlah, Lun. Lagian itu nggak ada hubungannya sama kamu. Aku lagi malas ambil job. Buat yang lain aja. Bye.”
Tut…tut…tut…
Hmm… aku paling suka menyampaikan suara itu kepada wanita bersuara nyaring itu. Tapi aku tidak suka melihat pemilikku tidak bersemangat seperti saat ini. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?
Akh! Lagi-lagi rekanku memanggilku. Kali ini pesan singkat yang harus kusampaikan kepada pemilikku.
‘Vera, kita ada tugas kelompok. Please, kali ini kamu datang. Jam delapan besok di kampus. Dodi.’
Lagi, aku dilemparkan ke tempat tidur. Dan pemilikku sekali lagi melakukan hal yang sama, menghempaskan dirinya ke tempat tidur. Kali ini kaki jenjangnya masih menggantung di pinggirannya.

“Pinjam charger handphone dong.”
Pagi itu aku masih berada dalam dayaku yang kurang maksimal. Bahkan sebentar lagi aku akan mati. Hmm… nampaknya pemilikku lupa mengisi diriku dengan listrik.
“Ini.” Wah. Kali ini aku mendengar suara asing lagi. Baru kali ini aku mendengar suara ini. Suara pemuda yang terdengar berat namun menenangkan. Aku cukup menyukai suara ini.
Tak lama kemudian aku merasakan dayaku semakin bertambah. Hmm… aku sangat menyukai rasa yang kualami saat ini. Benar-benar nyaman.
“Ada tugas apa?” suara judes dari pemilikku membuatku terbangun dari rasa nyamanku. Tidak biasanya dia begini.
“Biasa aja. Aku cuma pengen kamu datang.”
Aku mendengar pemilikku mendengus. “Kalau begitu aku pulang.”
Apa??? Yang benar saja! Aku kan sedang diisi ulang. Kenapa sudah mau dilepas lagi? Ck! Ah ini menyebalkan.
“Kenapa kamu jarang kuliah sih, Ver?”
“Terserah aku dong. Ngapain kamu nanya-nanya? Naksir ya?”
Aku mendengar hembusan nafas panjang dari pemuda itu.
“Iya. Aku naksir kamu.”
Wah… sepertinya ini akan seru. Tapi sudahlah, aku terlanjur keenakan dengan keadaanku ini.
Aku melihat pemilikku membasahi bibirnya. “Jangan bercanda. Aku tidak seperti yang kamu bayangkan.”
Diam sejenak.
“Memangnya di bayanganmu aku membayangkan apa tentangmu?” pemuda itu bertanya tenang.
“Entahlah. Aku tidak tahu. Yang jelas aku tidak seperti bayanganmu.”
“Seorang SPG dan pernah berkencan dengan beberapa pria paruh baya. Begitu kan?”
Pemilikku terdiam. “Begitulah.”
“Kalau begitu kamu sesuai dengan bayanganku. Aku menyukaimu. Sejak awal kuliah. Saat masih ospek. Sebelum kamu menjadi SPG. Dan saat kita masih akrab...”
Aku tidak tahu bagaimana rasanya menjadi manusia. Tapi yang aku tahu, selama beberapa tahun menemani pemilikku, aku tak pernah melihat pipinya bersemu merah seperti saat ini.

Senin, 22 Juli 2013

yungphapuccino: life is like a cappuccino

Seorang teman mengatakan bahwa sebaik-baik hidup adalah ketika kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Saya setuju dengan pendapatnya itu, akan tetapi seringkali saya berpikir, bagaimana caranya supaya kita bisa bermanfaat untuk orang lain? Lama saya mencari jawabannya, hingga kemudian saya menemukannya. Bukan dengan perenungan panjang yang menguras emosi, akan tetapi dengan kejadian kecil di suatu sore. Ketika saya menikmati minuman favorit saya, secangkir cappuccino.
Mengapa cappuccino?
Cappuccino, kopi dengan rasa manis dan pahit ketika kau menyeduhnya. Begitulah caramu menikmatinya. Kau harus merasakannya.
Cappuccino, selalu mempunyai topping indah dalam penyajiannya. Dengan beragam bentuk dan gambar indah di atas kopinya, hingga rasanya eman untuk menghancurkannya.
Tapi jika saya tidak menghancurkan gambar tersebut, bagaimana saya bisa merasakannya?
Jawabannya tidak sulit. Untuk dapat merasakan cappuccino, maka kau harus tega menghancurkan gambar yang seolah terukir indah di atasnya. Dengan demikian maka kau akan bisa menyeduhnya, menikmati sensasi rasa antara manis dan pahit yang diciptakan oleh olahan kopi terbaik.
Dan seperti itulah saya memaknai kehidupan: hancurkanlah zona indahmu, rasa nyaman dan amanmu. Maka dengan itu kau akan merasakan sensasi percampuran antara pahit dan manis. Manis dan pahit. Dan itulah kehidupan yang sebenarnya.
Life is like a cappuccino: kadang kita menemukan jawaban dari apa yang biasanya kita lalui, apa yang kita jalani, tapi kita terlalu menutup mata dan telinga hanya untuk sekedar memahaminya.
Life is like a cappuccino: hidup akan bermakna ketika kita sudah merasakan pahit dan manis di dalamnya.
Life is like a cappuccino: hidupkanlah dirimu terlebih dahulu, maka kau akan bisa bermanfaat bagi siapapun yang kau inginkan.

RANDU



Aku memandangi bangunan Belanda bercat putih pucat yang berdiri kokoh di hadapanku. Tak seperti bangunan-bangunan peninggalan Belanda lainnya yang terlihat menyeramkan,  bangunan ini terlihat lebih modern namun tetap tidak meninggalkan kesan oldies dari bentuk awalnya. Dengan adanya pemugaran dan renovasi, bangunan ini justru semakin ramai dan modern. Sekali lagi, tanpa meninggalkan kesan oldies dari bentuk terdahulunya.
Suara panggilan penumpang yang merupakan khas dari tempat ini bergema hingga ke luar bangunan. Aku melihat ke jam tangan merah marun yang selalu menjadi favoritku. Keretaku masih setengah jam lagi. Sekali lagi aku memandangi stasiun ini. Tempat persinggahan terakhirku di kota ini sebelum aku pergi meninggalkannya. Lalu aku menoleh ke belakang. Ke jalanan di depan stasiun yang juga merupakan jalanan protokol di kota ini. Jalanan yang menghubungkan stasiun ini dan juga rumahku. Jalanan yang menghubungkan masa laluku dengan masa depanku.
Kulangkahkan kakiku menuju peron stasiun. Bagaimanapun juga, pagi ini aku sudah membulatkan tekad untuk bisa di sini. Bahkan aku sampai melakukan perbuatan yang paling kubenci: membuat ibuku menangis. Kupandangi tiket kereta di tanganku. Argo Wilis jam 10.15 WIB. Aku pun mengencangkan ikatan ranselku dan menarik koperku menuju tempat pemeriksaan tiket. Ketika sudah sampai di depan loket pemeriksaan, sekali lagi aku melihat jalanan depan stasiun. Ada perasaan enggan untuk meninggalkan kota ini, namun ada perasaan agar aku bisa melangkah maju, dengan mengorbankan hal-hal indah di kota ini.
Lalu aku mengganti arah langkahku. Bukannya ke loket pemeriksaan karcis, namun langkahku malah ke deretan kursi tunggu penumpang yang terletak di peron luar stasiun. Aku menuju deretan bangku kosong yang terletak di shaf paling belakang. Kuletakkan ranselku di atas koper, kemudian aku duduk di bangku itu. Akan tetapi pandanganku kosong. Kukeluarkan lagi tiket dari saku jaketku, lalu kupandangi kertas itu. Namun memoriku terbang menuju suatu sore pada beberapa minggu yang lalu.
Aku menerima email pemberitahuan dari program beasiswa yang aku kirimkan beberapa bulan yang lalu. Program beasiswa ke luar negeri yang kukirimkan diam-diam tanpa sepengetahuan keluargaku. Sebenarnya aku hanya mencoba-coba saja. Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku sangat berharap andai aku bisa menerima beasiswa itu. Dan akhirnya, terjadilah kenyataan itu. Aplikasi beasiswaku dinyatakan lolos. Dan untuk itu, aku harus mengambil keputusan: mengambilnya atau tidak.
Bukannya tanpa alasan aku memiliki dua opsi itu. Karena aku memang sangat ingin melanjutkan studiku. Aku ingin melanjutkan risetku. Aku ingin membuat perubahan dalam diriku. Itu adalah hal yang sangat kuimpikan dan kudambakan. Dan aku yakin siapapun pasti juga memimpikan hal yang sama: perubahan ke arah yang lebih baik. Namun tidak semua orang bisa dan mampu melakukannya. Kini aku mempunyai jalan yang bisa membawaku ke sana. Haruskah aku hanya memandanginya lalu melewatkannya begitu saja? Aku rasa itu bukanlah sifatku. Melewatkan kesempatan yang tidak dimiliki oleh semua orang. Dan juga untuk berjuang hingga akhir. Karena itu adalah yang selalu diajarkan oleh ibuku.
Opsi kedua, tidak mengambil kesempatan itu. Mengapa ada opsi itu? Karena orang yang mengajariku tentang kepantang-menyerahan dalam situasi apapunlah sebabnya. Benar. Ibuku. Ibuku adalah wanita kuat dan tegar yang selalu bisa menyembunyikan kesedihannya. Bahkan di saat beliau ditinggalkan oleh ayah. Aku masih ingat saat itu. Aku yang berusia sembilan tahun menangis sesenggukan di pojok kamar. Menolak untuk makan, berbicara, bahkan menolak semua orang yang berusaha menghiburku. Di pikiranku saat itu hanya ada satu: ayah sudah pergi. Selamanya. Tidak akan ada lagi orang yang menggendongku di pundaknya. Tidak akan ada lagi orang yang menenangkanku saat aku terjatuh dan terluka karena kecerobohanku. Tidak ada lagi orang yang akan memelukku hingga aku tertidur. Tidak ada. Dan saat itu, ibuku dengan lembut mengusap air mataku. Tersenyum dengan penuh kasih sayangnya, lalu menggenggam tanganku. Matanya seolah berkata: semua akan baik-baik saja. Lalu aku pun menghambur ke pelukannya. Pelukan yang lembut. Tidak seperti ayah yang keras. Namun aku merasakan hal yang sama di antara keduanya: mereka memelukku seolah aku adalah harta mereka yang paling berharga.
Dan kini tangan yang saat itu memelukku tidak lagi bisa melakukan hal yang sama. Dua tahun lalu ibu terkena stroke ringan. Dan itu mengakibatkan kedua tangannya lumpuh. Lalu dengan pengobatan yang rutin kami lakukan, lambat laun tangan ibu dapat digerakkan lagi. Namun tidak bisa sama seperti semula. Ibu belum bisa menggenggam dengan erat. Tapi ada satu hal yang kusadari: walaupun keadaan ibu berubah menjadi seperti saat ini, senyum di wajahnya masih sama. Senyum lembut yang seolah selalu mengatakan: semua akan baik-baik saja.
Pikiranku melayang ke saat aku menerima email pemberitahuan itu. International Master in Rural Development. Wageningen University. Saat itu aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Aku ingin mengejar impianku. Tapi aku juga ingin menjaga ibu.
Untuk beberapa hari setelahnya aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi dalam setiap pekerjaan yang kulakukan. Komplain datang dari berbagai arah. Setelah komplain itu pun pekerjaanku masih tidak beres. Aku benar-benar resah. Bimbang. Tidak tahu harus mengambil keputusan yang mana. Namun tampaknya ibu tidak melewatkan perhatiannya pada perubahan perilakuku ini. Dengan suara terbatanya beliau bertanya, “Ada apa, Nduk[1]?”
Mendengar pertanyaan dari ibu, kontan aku langsung menghamburkan diriku ke pangkuan beliau. Seperti yang selalu kulakukan sejak kecil ketika hatiku sedang merasa sedih, bimbang, dan tidak tahu harus melakukan apa. Ibu yang sudah sangat memahami kebiasaanku itu langsung menyadari keresahan hatiku. Aku pun menangis di pangkuan beliau, sementara itu dengan tangannya yang masih bergetar akibat penyakitnya, ibu membelai lembut kepalaku.
Puas dengan tangisku, aku pun mencoba menceritakan apa yang menjadi sumber kegundahanku. Namun berkali-kali aku mencoba menyampaikannya, selalu suara sesenggukan akibat tangisku sebelum itu mengganggu kalimat-kalimatku. Setelah mendiamkan dan menenangkan diriku untuk beberapa saat, akhirnya aku bisa menyampaikan kalimat-kalimat yang aku susun dengan susah payah di otakku kepada ibu.
Beberapa saat setelah aku menyampaikan kegelisahanku, ibu terdiam. Lalu tangan beliau yang masih gemetar, memegang lembut pipiku. Saat aku melihat ke mata ibu, kulihat tatapan lembutnya, juga senyuman di wajahnya yang sudah renta. “Pergilah, Nduk. Ibu akan menunggu.” Itu yang dikatakan oleh ibu. Masih dengan senyumannya, yang seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Berkat dorongan kalimat ibu saat itu, akhirnya aku dengan semangat empat lima memperjuangkan urusan-urusan administrasi yang masih belum kutangani. Pun aku mengundurkan diri dari pekerjaanku. Demi sebuah mimpiku: perubahan.
Irama lantunan khas stasiun pun kembali terdengar dari speaker kotak kecil yang ada di belakang deretan bangkuku. Lalu lantunan itu diikuti dengan suara pemberitahuan dari petugas stasiun. Pemberitahuan kereta yang akan datang. Bukan keretaku. Kulihat waktu di jam marunku. Masih lima belas menit lagi.
Saat aku akan memutuskan untuk berdiri dan menuju ke peron dalam, aku melihat ada seorang nenek berusia enam puluhan tahun sedang bercanda dengan cucunya yang berusia empat tahunan. Mereka terlihat begitu bahagia. Bahkan ketika si cucu berlari di antara kerumunan orang yang lalu lalang di peron, sang nenek dengan nafas kembang-kempisnya berusaha mengejar cucunya. Kulihat ada seorang wanita yang berdiri tak jauh dari cucu nenek tersebut lalu menggendong anak itu. Kemudian dia menghampiri sang nenek yang nafasnya terlihat sudah hampir habis. Mungkin wanita itu adalah ibu anak itu. Wanita itu mencium kening si anak, kulihat di sudut mataku bahwa sang nenek tersenyum menyaksikan kejadian itu. Senyum yang selalu aku inginkan juga ada di wajah ibu.
Seminggu sebelum hari ini, ketika aku pulang kantor lebih cepat—hari itu adalah hari kerja terakhirku—aku menemukan ibu ada di kamarnya bersama Mbak Mi. Mbak Mi adalah tetanggaku yang juga sekaligus pengurus rumahku semenjak aku kecil. Dia sangat akrab dengan keluargaku. Bahkan kami—aku, ibu, serta ayah—sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga kami. Karena begitu lama dan sangat berperannya Mbak Mi dalam kehidupan kami.
Aku menemukan ibu dan Mbak Mi di kamar ibu. Biasanya, aku akan langsung masuk ke kamar dan memeluk Mbak Mi dari belakang, lalu mencium kening ibu dan kemudian ikut duduk bersama mereka. Namun kali itu lain. Ketika akan kulangkahkan kakiku, kudengar suara isak tangis ibu. Tubuhku langsung kelu. Ibu. Beliau wanita kuat. Beliau tidak pernah menangis. Bahkan ketika ayah pergi meninggalkan kami berdua. Kutajamkan telingaku. Berusaha mendengarkan apa yang mereka perbincangkan. Setelah suara-suara sayu dari ibu dan Mbak Mi tertangkap jelas oleh kupingku, kakiku langsung lemas.
Emptiness syndrome. Sindrom sangkar kosong. Dalam ilmu psikologi, keadaan ini biasa dialami oleh orangtua-orangtua yang merasa bahwa anaknya akan meninggalkan mereka. Ketika mengalami hal ini, maka yang bersangkutan akan mengalami kesepian yang amat sangat. Dan kesepian ini lambat laun akan membuat penderitanya mengalami stres. Aku pernah mempelajari hal ini saat mengambil mata kuliah pengantar psikologi waktu aku kuliah S1 dulu. Dan bodohnya aku, mengapa tak pernah terpikirkan olehku bahwa ibu juga akan mengalami hal ini. Aku pun kembali ke kamarku dengan langkah lunglai dan disertai peluh tangis yang mengalir di pipiku. Sudah kuputuskan: aku akan menolak beasiswa ini.
Sekali lagi, suara pemberitahuan kereta akan datang terdengar dari speaker peron stasiun. Ah, kali ini benar keretaku. Aku pun berdiri, kembali menggendong ranselku, dan menarik koperku. Kulangkahkan kakiku ke antrian pemeriksaan tiket. Lalu kemudian aku mendengar suara seseorang memanggil namaku. “Randu! Randu! Jangan pergi dulu!” aku menoleh ke arah suara tersebut berasal. Mbak Mi. Aku pun menarik diri dari antrian pemeriksaan tiket dan menghambur ke Mbak Mi.
“Ada apa Mbak?” tanyaku penasaran dan cemas. Cemas kalau tiba-tiba terjadi sesuatu pada ibu. Mbak Mi lalu mengeluarkan secarik amplop dari kantung baju dasternya. Baju daster memang benar-benar ciri khas Mbak Mi, pikirku. Dia menyerahkan amplop tadi kepadaku. “Dari Ibu.” katanya sambil tersenyum.
“Keretamu sudah mau datang kan, Nduk? Sana masuk ke peron. Nanti kamu ketinggalan lho.” Katanya sambil tersenyum. Aku pun mengangguk, kemudian kupeluk wanita paro baya itu. Tak kuasa air mata pun mengalir dari mataku yang memang sudah sembab dari tadi. “Tolong jaga Ibu ya, Mbak.” Pintaku. Dan Mbak Mi menjawabnya sambil mengacungkan jempol kanannya. Aku menyeka air mataku dan menuju antrian pemeriksaan karcis. Setelah masuk ke peron dalam, kukeluarkan isi amplop yang diberikan Mbak Mi. Sepucuk surat. Namun sebelum sempat kubaca isi surat itu, keretaku datang. Buru-buru aku memasukkan surat tadi dan amplopnya ke dalam tas sampingku, lalu mencari nomor gerbong dan tempat dudukku. Kutata rapi koper dan ranselku di bagasi atas. Aku pun duduk dan mengeluarkan surat itu lagi. Tulisan Mbak Mi. Aku tersenyum melihatnya. Ibu pasti meminta tolong ke Mbak Mi untuk menulisnya. Lalu kubaca surat itu.
Randu, saat kamu membaca ini, Ibu sudah tidak ada lagi di dekatmu. Ibu sudah akan berada jauh dari kamu, Nduk. Sebenarnya Ibu sedih kalau memikirkan bahwa kamu akan jauh dari Ibu untuk entah berapa lama. Ibu sedih sekali. Karena seperti yang kamu tahu, Nduk, kamu satu-satunya harta Ibu yang masih tersisa setelah kepergian ayahmu.
Tapi Nduk, saat Ibu mengingat kesedihan Ibu ini, Ibu juga menyadari bahwa kamu pun mempunyai kesedihan yang sama. Dan Ibu tidak mau membiarkan kamu berlarut dalam kesedihanmu. Karena Ibu tahu, Genduk mempunyai mimpi  yang harus diperjuangkan.
Bukannya tanpa alasan Ibu dan Ayahmu menamakanmu Randu. Randu, si pohon kapas. Kami ingin kamu seperti dia. Kapas terbang, pergi meninggalkan pohonnya. Sementara pohon tidak bisa menahan dia. Karena hanya dengan meninggalkan pohon, maka kapas itu akan berguna.
Itulah yang kami harapkan dari kamu, Nduk. Itu pula yang harus kami lakukan. Dan inilah yang sekarang Ibu lakukan. Ibu rela kalau sekarang Genduk meninggalkan Ibu. Carilah kehidupanmu. Jadilah berguna bagi orang lain, Nduk. Dan jika suatu hari nanti kamu sudah jadi orangtua bagi anak-anakmu, maka ingatlah selalu mengapa kamu dinamakan Randu.
Ibu rela Genduk tinggalkan. Ibu ikhlas. Tapi Genduk harus berjanji satu hal. Sekembalinya Genduk nanti, Genduk harus menjadi orang yang berguna. Karena Genduk adalah satu-satunya harta berharga bagi Ibu dan Ayahmu ini.
Terakhir, berhati-hatilah di negeri orang. Jangan pernah lupakan bahwa ibu di sini menunggumu. Ibu menyayangimu, Randu.
Di akhir surat itu, ada tetesan air yang masih basah yang barusan keluar dari kedua bola mataku. Ibu, di tengah kesedihannya, masih tetap memikirkanku. Ibu, yang setelah aku mengutarakan bahwa aku tidak akan pergi, langsung memarahiku. Ibu, di tengah kekalutanku, malah meminta Mbak Mi untuk membelikan tiket kereta yang kini aku tumpangi. Ibu, yang tadi pagi dengan senyum hangatnya memaksaku untuk pergi ke stasiun. Ibu, yang selalu memikirkan bagaimana kebaikan datang untukku. Ibu, aku berjanji akan kembali sesuai dengan apa yang menjadi harapanmu.
Ibu, aku juga menyayangimu. Sangat menyayangimu.


[1] Nduk (Genduk): nama panggilan untuk anak perempuan dalam masyarakat Jawa.