Aku memandangi bangunan Belanda
bercat putih pucat yang berdiri kokoh di hadapanku. Tak seperti
bangunan-bangunan peninggalan Belanda lainnya yang terlihat menyeramkan, bangunan ini terlihat lebih modern namun tetap
tidak meninggalkan kesan oldies dari
bentuk awalnya. Dengan adanya pemugaran dan renovasi, bangunan ini justru semakin
ramai dan modern. Sekali lagi, tanpa meninggalkan kesan oldies dari bentuk terdahulunya.
Suara panggilan penumpang yang
merupakan khas dari tempat ini bergema hingga ke luar bangunan. Aku melihat ke
jam tangan merah marun yang selalu menjadi favoritku. Keretaku masih setengah
jam lagi. Sekali lagi aku memandangi stasiun ini. Tempat persinggahan
terakhirku di kota ini sebelum aku pergi meninggalkannya. Lalu aku menoleh ke
belakang. Ke jalanan di depan stasiun yang juga merupakan jalanan protokol di
kota ini. Jalanan yang menghubungkan stasiun ini dan juga rumahku. Jalanan yang
menghubungkan masa laluku dengan masa depanku.
Kulangkahkan kakiku menuju peron
stasiun. Bagaimanapun juga, pagi ini aku sudah membulatkan tekad untuk bisa di
sini. Bahkan aku sampai melakukan perbuatan yang paling kubenci: membuat ibuku
menangis. Kupandangi tiket kereta di tanganku. Argo Wilis jam 10.15 WIB. Aku
pun mengencangkan ikatan ranselku dan menarik koperku menuju tempat pemeriksaan
tiket. Ketika sudah sampai di depan loket pemeriksaan, sekali lagi aku melihat
jalanan depan stasiun. Ada perasaan enggan untuk meninggalkan kota ini, namun
ada perasaan agar aku bisa melangkah maju, dengan mengorbankan hal-hal indah di
kota ini.
Lalu aku mengganti arah langkahku.
Bukannya ke loket pemeriksaan karcis, namun langkahku malah ke deretan kursi
tunggu penumpang yang terletak di peron luar stasiun. Aku menuju deretan bangku
kosong yang terletak di shaf paling belakang. Kuletakkan ranselku di atas koper,
kemudian aku duduk di bangku itu. Akan tetapi pandanganku kosong. Kukeluarkan
lagi tiket dari saku jaketku, lalu kupandangi kertas itu. Namun memoriku
terbang menuju suatu sore pada beberapa minggu yang lalu.
Aku menerima email pemberitahuan dari program beasiswa yang aku kirimkan
beberapa bulan yang lalu. Program beasiswa ke luar negeri yang kukirimkan
diam-diam tanpa sepengetahuan keluargaku. Sebenarnya aku hanya mencoba-coba
saja. Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku sangat berharap andai aku bisa
menerima beasiswa itu. Dan akhirnya, terjadilah kenyataan itu. Aplikasi
beasiswaku dinyatakan lolos. Dan untuk itu, aku harus mengambil keputusan:
mengambilnya atau tidak.
Bukannya tanpa alasan aku memiliki
dua opsi itu. Karena aku memang sangat ingin melanjutkan studiku. Aku ingin
melanjutkan risetku. Aku ingin membuat perubahan dalam diriku. Itu adalah hal
yang sangat kuimpikan dan kudambakan. Dan aku yakin siapapun pasti juga
memimpikan hal yang sama: perubahan ke arah yang lebih baik. Namun tidak semua
orang bisa dan mampu melakukannya. Kini aku mempunyai jalan yang bisa membawaku
ke sana. Haruskah aku hanya memandanginya lalu melewatkannya begitu saja? Aku
rasa itu bukanlah sifatku. Melewatkan kesempatan yang tidak dimiliki oleh semua
orang. Dan juga untuk berjuang hingga akhir. Karena itu adalah yang selalu
diajarkan oleh ibuku.
Opsi kedua, tidak mengambil
kesempatan itu. Mengapa ada opsi itu? Karena orang yang mengajariku tentang
kepantang-menyerahan dalam situasi apapunlah sebabnya. Benar. Ibuku. Ibuku
adalah wanita kuat dan tegar yang selalu bisa menyembunyikan kesedihannya.
Bahkan di saat beliau ditinggalkan oleh ayah. Aku masih ingat saat itu. Aku
yang berusia sembilan tahun menangis sesenggukan di pojok kamar. Menolak untuk
makan, berbicara, bahkan menolak semua orang yang berusaha menghiburku. Di
pikiranku saat itu hanya ada satu: ayah sudah pergi. Selamanya. Tidak akan ada
lagi orang yang menggendongku di pundaknya. Tidak akan ada lagi orang yang
menenangkanku saat aku terjatuh dan terluka karena kecerobohanku. Tidak ada
lagi orang yang akan memelukku hingga aku tertidur. Tidak ada. Dan saat itu,
ibuku dengan lembut mengusap air mataku. Tersenyum dengan penuh kasih
sayangnya, lalu menggenggam tanganku. Matanya seolah berkata: semua akan
baik-baik saja. Lalu aku pun menghambur ke pelukannya. Pelukan yang lembut.
Tidak seperti ayah yang keras. Namun aku merasakan hal yang sama di antara
keduanya: mereka memelukku seolah aku adalah harta mereka yang paling berharga.
Dan kini tangan yang saat itu
memelukku tidak lagi bisa melakukan hal yang sama. Dua tahun lalu ibu terkena stroke ringan. Dan itu mengakibatkan
kedua tangannya lumpuh. Lalu dengan pengobatan yang rutin kami lakukan, lambat
laun tangan ibu dapat digerakkan lagi. Namun tidak bisa sama seperti semula.
Ibu belum bisa menggenggam dengan erat. Tapi ada satu hal yang kusadari:
walaupun keadaan ibu berubah menjadi seperti saat ini, senyum di wajahnya masih
sama. Senyum lembut yang seolah selalu mengatakan: semua akan baik-baik saja.
Pikiranku melayang ke saat aku
menerima email pemberitahuan itu. International
Master in Rural Development. Wageningen University. Saat itu aku benar-benar
tidak tahu harus bagaimana. Aku ingin mengejar impianku. Tapi aku juga ingin
menjaga ibu.
Untuk beberapa hari setelahnya aku
benar-benar tidak bisa berkonsentrasi dalam setiap pekerjaan yang kulakukan.
Komplain datang dari berbagai arah. Setelah komplain itu pun pekerjaanku masih
tidak beres. Aku benar-benar resah. Bimbang. Tidak tahu harus mengambil
keputusan yang mana. Namun tampaknya ibu tidak melewatkan perhatiannya pada
perubahan perilakuku ini. Dengan suara terbatanya beliau bertanya, “Ada apa,
Nduk[1]?”
Mendengar pertanyaan dari ibu,
kontan aku langsung menghamburkan diriku ke pangkuan beliau. Seperti yang
selalu kulakukan sejak kecil ketika hatiku sedang merasa sedih, bimbang, dan
tidak tahu harus melakukan apa. Ibu yang sudah sangat memahami kebiasaanku itu
langsung menyadari keresahan hatiku. Aku pun menangis di pangkuan beliau,
sementara itu dengan tangannya yang masih bergetar akibat penyakitnya, ibu
membelai lembut kepalaku.
Puas dengan tangisku, aku pun
mencoba menceritakan apa yang menjadi sumber kegundahanku. Namun berkali-kali
aku mencoba menyampaikannya, selalu suara sesenggukan akibat tangisku sebelum
itu mengganggu kalimat-kalimatku. Setelah mendiamkan dan menenangkan diriku
untuk beberapa saat, akhirnya aku bisa menyampaikan kalimat-kalimat yang aku
susun dengan susah payah di otakku kepada ibu.
Beberapa saat setelah aku
menyampaikan kegelisahanku, ibu terdiam. Lalu tangan beliau yang masih gemetar,
memegang lembut pipiku. Saat aku melihat ke mata ibu, kulihat tatapan
lembutnya, juga senyuman di wajahnya yang sudah renta. “Pergilah, Nduk. Ibu
akan menunggu.” Itu yang dikatakan oleh ibu. Masih dengan senyumannya, yang
seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Berkat dorongan kalimat ibu saat
itu, akhirnya aku dengan semangat empat lima memperjuangkan urusan-urusan
administrasi yang masih belum kutangani. Pun aku mengundurkan diri dari
pekerjaanku. Demi sebuah mimpiku: perubahan.
Irama lantunan khas stasiun pun
kembali terdengar dari speaker kotak
kecil yang ada di belakang deretan bangkuku. Lalu lantunan itu diikuti dengan
suara pemberitahuan dari petugas stasiun. Pemberitahuan kereta yang akan
datang. Bukan keretaku. Kulihat waktu di jam marunku. Masih lima belas menit
lagi.
Saat aku akan memutuskan untuk
berdiri dan menuju ke peron dalam, aku melihat ada seorang nenek berusia enam
puluhan tahun sedang bercanda dengan cucunya yang berusia empat tahunan. Mereka
terlihat begitu bahagia. Bahkan ketika si cucu berlari di antara kerumunan
orang yang lalu lalang di peron, sang nenek dengan nafas kembang-kempisnya
berusaha mengejar cucunya. Kulihat ada seorang wanita yang berdiri tak jauh
dari cucu nenek tersebut lalu menggendong anak itu. Kemudian dia menghampiri
sang nenek yang nafasnya terlihat sudah hampir habis. Mungkin wanita itu adalah
ibu anak itu. Wanita itu mencium kening si anak, kulihat di sudut mataku bahwa
sang nenek tersenyum menyaksikan kejadian itu. Senyum yang selalu aku inginkan
juga ada di wajah ibu.
Seminggu sebelum hari ini, ketika
aku pulang kantor lebih cepat—hari itu adalah hari kerja terakhirku—aku
menemukan ibu ada di kamarnya bersama Mbak Mi. Mbak Mi adalah tetanggaku yang
juga sekaligus pengurus rumahku semenjak aku kecil. Dia sangat akrab dengan
keluargaku. Bahkan kami—aku, ibu, serta ayah—sudah menganggapnya sebagai bagian
dari keluarga kami. Karena begitu lama dan sangat berperannya Mbak Mi dalam
kehidupan kami.
Aku menemukan ibu dan Mbak Mi di
kamar ibu. Biasanya, aku akan langsung masuk ke kamar dan memeluk Mbak Mi dari
belakang, lalu mencium kening ibu dan kemudian ikut duduk bersama mereka. Namun
kali itu lain. Ketika akan kulangkahkan kakiku, kudengar suara isak tangis ibu.
Tubuhku langsung kelu. Ibu. Beliau wanita kuat. Beliau tidak pernah menangis.
Bahkan ketika ayah pergi meninggalkan kami berdua. Kutajamkan telingaku. Berusaha
mendengarkan apa yang mereka perbincangkan. Setelah suara-suara sayu dari ibu
dan Mbak Mi tertangkap jelas oleh kupingku, kakiku langsung lemas.
Emptiness
syndrome. Sindrom sangkar kosong. Dalam ilmu psikologi, keadaan ini biasa
dialami oleh orangtua-orangtua yang merasa bahwa anaknya akan meninggalkan
mereka. Ketika mengalami hal ini, maka yang bersangkutan akan mengalami
kesepian yang amat sangat. Dan kesepian ini lambat laun akan membuat
penderitanya mengalami stres. Aku pernah mempelajari hal ini saat mengambil
mata kuliah pengantar psikologi waktu aku kuliah S1 dulu. Dan bodohnya aku,
mengapa tak pernah terpikirkan olehku bahwa ibu juga akan mengalami hal ini. Aku
pun kembali ke kamarku dengan langkah lunglai dan disertai peluh tangis yang mengalir
di pipiku. Sudah kuputuskan: aku akan menolak beasiswa ini.
Sekali lagi, suara pemberitahuan
kereta akan datang terdengar dari speaker
peron stasiun. Ah, kali ini benar keretaku. Aku pun berdiri, kembali
menggendong ranselku, dan menarik koperku. Kulangkahkan kakiku ke antrian
pemeriksaan tiket. Lalu kemudian aku mendengar suara seseorang memanggil
namaku. “Randu! Randu! Jangan pergi dulu!” aku menoleh ke arah suara tersebut
berasal. Mbak Mi. Aku pun menarik diri dari antrian pemeriksaan tiket dan menghambur
ke Mbak Mi.
“Ada apa Mbak?” tanyaku penasaran
dan cemas. Cemas kalau tiba-tiba terjadi sesuatu pada ibu. Mbak Mi lalu
mengeluarkan secarik amplop dari kantung baju dasternya. Baju daster memang
benar-benar ciri khas Mbak Mi, pikirku. Dia menyerahkan amplop tadi kepadaku.
“Dari Ibu.” katanya sambil tersenyum.
“Keretamu sudah mau datang kan,
Nduk? Sana masuk ke peron. Nanti kamu ketinggalan lho.” Katanya sambil
tersenyum. Aku pun mengangguk, kemudian kupeluk wanita paro baya itu. Tak kuasa
air mata pun mengalir dari mataku yang memang sudah sembab dari tadi. “Tolong
jaga Ibu ya, Mbak.” Pintaku. Dan Mbak Mi menjawabnya sambil mengacungkan jempol
kanannya. Aku menyeka air mataku dan menuju antrian pemeriksaan karcis. Setelah
masuk ke peron dalam, kukeluarkan isi amplop yang diberikan Mbak Mi. Sepucuk
surat. Namun sebelum sempat kubaca isi surat itu, keretaku datang. Buru-buru
aku memasukkan surat tadi dan amplopnya ke dalam tas sampingku, lalu mencari
nomor gerbong dan tempat dudukku. Kutata rapi koper dan ranselku di bagasi
atas. Aku pun duduk dan mengeluarkan surat itu lagi. Tulisan Mbak Mi. Aku
tersenyum melihatnya. Ibu pasti meminta tolong ke Mbak Mi untuk menulisnya.
Lalu kubaca surat itu.
Randu, saat kamu
membaca ini, Ibu sudah tidak ada lagi di dekatmu. Ibu sudah akan berada jauh
dari kamu, Nduk. Sebenarnya Ibu sedih kalau memikirkan bahwa kamu akan jauh
dari Ibu untuk entah berapa lama. Ibu sedih sekali. Karena seperti yang kamu
tahu, Nduk, kamu satu-satunya harta Ibu yang masih tersisa setelah kepergian
ayahmu.
Tapi Nduk, saat
Ibu mengingat kesedihan Ibu ini, Ibu juga menyadari bahwa kamu pun mempunyai
kesedihan yang sama. Dan Ibu tidak mau membiarkan kamu berlarut dalam
kesedihanmu. Karena Ibu tahu, Genduk mempunyai mimpi yang harus diperjuangkan.
Bukannya tanpa
alasan Ibu dan Ayahmu menamakanmu Randu. Randu, si pohon kapas. Kami ingin kamu
seperti dia. Kapas terbang, pergi meninggalkan pohonnya. Sementara pohon tidak
bisa menahan dia. Karena hanya dengan meninggalkan pohon, maka kapas itu akan
berguna.
Itulah yang kami
harapkan dari kamu, Nduk. Itu pula yang harus kami lakukan. Dan inilah yang
sekarang Ibu lakukan. Ibu rela kalau sekarang Genduk meninggalkan Ibu. Carilah
kehidupanmu. Jadilah berguna bagi orang lain, Nduk. Dan jika suatu hari nanti
kamu sudah jadi orangtua bagi anak-anakmu, maka ingatlah selalu mengapa kamu
dinamakan Randu.
Ibu rela Genduk
tinggalkan. Ibu ikhlas. Tapi Genduk harus berjanji satu hal. Sekembalinya Genduk
nanti, Genduk harus menjadi orang yang berguna. Karena Genduk adalah satu-satunya
harta berharga bagi Ibu dan Ayahmu ini.
Terakhir, berhati-hatilah
di negeri orang. Jangan pernah lupakan bahwa ibu di sini menunggumu. Ibu
menyayangimu, Randu.
Di akhir surat itu, ada tetesan air
yang masih basah yang barusan keluar dari kedua bola mataku. Ibu, di tengah
kesedihannya, masih tetap memikirkanku. Ibu, yang setelah aku mengutarakan bahwa
aku tidak akan pergi, langsung memarahiku. Ibu, di tengah kekalutanku, malah
meminta Mbak Mi untuk membelikan tiket kereta yang kini aku tumpangi. Ibu, yang
tadi pagi dengan senyum hangatnya memaksaku untuk pergi ke stasiun. Ibu, yang
selalu memikirkan bagaimana kebaikan datang untukku. Ibu, aku berjanji akan
kembali sesuai dengan apa yang menjadi harapanmu.
Ibu,
aku juga menyayangimu. Sangat menyayangimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar