Minggu, 10 Agustus 2014, saya berkunjung ke Pacitan, sebuah kota kecil di ujung selatan JawaTimur. Pacitan, kota yang terlupakan. Itulah sebutan yang tepat untuk kota kecil ini. terletak di sebelah selatan Provinsi Jawa Timur, sekaligus berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah, Pacitan merupakan kota terpencil yang dikelilingi oleh pegunungan.
Untuk mencapai kota ini, saya memerlukan waktu dua jam dari kota tempat tinggal saya yang terletak di Madiun. Jalanan ke Pacitan ini pun tak bisa dianggap mudah, karena untuk bisa sampai ke sana saya harus melewati jajaran dataran tinggi yang memisahkan kota saya dengannya. Sepanjang perjalanan, pemandangan dataran tinggi siap menyambut mata. Pun tak jarang akan dijumpai penumpang di mobil bak terbuka. Benar. Warga daerah Pacitan sering menggunakan mobil bak terbuka untuk angkutan ke daerah sekitar. Mereka akan berdiri di bak terbuka tersebut dengan sukacita yang tinggi. Khas orang Indonesia di pedesaan, mereka mengenal satu sama lain. Tak ayal mereka pun sering bercanda di mobil bak terbuka itu sambil berdiri (yang menurut saya sangat berbahaya). Pacitan, kota kecil dengan sejuta pesona.
Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Gua Gong. Gua yang disebut-sebut sebagai gua terindah di Asia Tenggara. Untuk mengaksesnya, saya memerlukan waktu sekitar satu jam dari kota Pacitan dengan perjalanan khas pegunungan, jalan berkelok-kelok dan naik turun, tentunya. Tiket masuk Gua Gong hanya Rp 5.000,00 per orang dan tarif parkir sepeda motor adalah Rp 2.000,00. Ketika sampai di tempat wisata ini, udara khas pegunungan tidak begitu terasa dikarenakan saking ramainya pengunjung di kawasan ini. Untuk mencapai gua ini dari tempat parkir hanya diperlukan lima menit jalan kaki.
Di perjalanan menuju mulut gua, akan ditemui banyak pedagang yang menawarkan jasa peminjaman senter (karena katanya guanya gelap dan jalanan tidak terlihat) seharga Rp 5.000,00 per senter. Saat itu saya tidak menyewa karena teman saya sudah membawa senter dari rumah (saya akui persiapan teman saya ini sangat komplit). Sesampainya di mulut gua, saya sudah merasakan hawa pengap dari dalam gua saking banyaknya orang yang ada di dalam gua. Dan benar saja, ketika saya masuk ke dalam gua, saya langsung merasakan sauna alam yang luar biasa. Gerah. Saking banyaknya orang di dalam gua sepanjang 300 meter itu. Untung saja di beberapa titik gua ada kipas angin super besar yang sedikit mengurangi rasa gerah di dalam gua.
Di dalam, saya baru mengetahui alasan di balik penamaan gua ini. Dinamakan Gua Gong dikarenakan stalaktit dan stalakmit yang ada di gua ini dapat berbunyi seperti gong ketika dipukul. Perjalanan sejauh 300 meter di dalam gua ini pun terasa singkat karena gua ini ternyata benar-benar indah. Keindahan stalaktit dan stalakmit yang beradu serta warna-warni yang menghiasi gua ini bukan hisapan jempol semata. Mungkin sebutan gua terindah di Asia Tenggara benar-benar pantas disematkan untuk gua ini. Dan ya, di dalam gua ini benar-benar gelap walaupun sudah ada penerangan serta tangga yang tertata rapi. Keluar dari gua, saya disambut kata-kata ‘left nothing except footprints’. What a nice words! I think.
Tujuan kedua setelah Gua Gong adalah Pantai Klayar. Untuk menuju pantai ini, cukup meneruskan perjalanan dari Gua Gong dikarenakan kedua tempat ini searah. Namun bedanya, ketika ke Gua Gong, jalanan masih bagus karena beraspal. Sedangkan perjalanan ke Pantai Klayar masih jauh dari kata mulus. Jalanan sempit dengan banyaknya aspal tidak rata serta tikungan tajam dan naik turun, membuat jalan ke Pantai Klayar lebih asyik jika dilalui oleh kendaraan roda dua. Jarak antara Gua Gong dan Pantai Klayar sekitar 14 kilometer. Kira-kira seperempat jam perjalanan jika menggunakan motor dengan kecepatan sedang.
Dalam perjalanan ini, Anda benar-benar memahami filosofi kehidupan mengenai perjalanan menuju keindahan selalu disertai oleh perjalanan yang berliku dan terjal. Dan setelah perjalanan itu, Anda akan menjumpai keindahan itu. Pantai Klayar. Dengan tiket masuk seharga Rp 3.000,00 per orang dan Rp 2.000,00 untuk parkir sepeda motor, Anda akan dapat menyaksikan pantai ini. Pantai dengan karang dan tebing yang tersembunyi jauh di dalam gunung. Pantai yang selalu dibuai oleh ombak laut selatan. Pantai di mana akan anda lihat perpaduan kelembutan serta keganasan ombak laut selatan. Berbeda dengan pantai kebanyakan yang berpasir halus, Pantai Klayar mempunyai tekstur pasir yang kasar serta pantai dengan karang. Jadi pikirkan ulang jika anda ingin mandi di pantai ini.
Jika anda menelusuri pantai ini lebih jauh, anda akan menemukan tempat dengan tepian pantai yang tidak berkarang. Tidak luas memang, hanya selebar kurang dari 50 meter dan diapit oleh dua buah karang yang kokoh meskipun dihantam ombak ribuan kali tiap harinya, namun di sini Anda bisa bermain layaknya berada di pantai pasir walaupun ombaknya masih besar. Dan hal yang tidak boleh dilewatkan dari pantai ini adalah Anda harus naik ke karang yang mengapit pantai pasir ini. Untuk naik ke karang ini Anda akan ditarik biaya sebesar Rp 2.000,00 lagi. Hal ini dikarenakan karang ini berbahaya dan memerlukan pengawasan, dibuktikan saat beberapa menit setelah saya masuk ke sana, pintu masuk ke karang ini sudah ditutup karena laut sudah mulai pasang (saat itu saya belum menyadari jika hari itu adalah tanggal 13).
Di karang tersebut, Anda akan menjumpai celah karang yang dihantam oleh ombak bisa menyemburkan ombak tersebut dengan aliran air yang kecil namun dengan tenaga yang cukup kuat. Di sini, anda bisa melakukan adegan dalam film Step Up 3D di mana ada udara (namun di sini digantikan oleh air laut yang tentunya akan membuat pakaian anda basah) yang menyembur anda dari bawah. Anda bisa berdiri berhadapan dengan teman anda di celah tersebut karena celah tersebut benar-benar kecil dan tidak membahayakan.
Beberapa saat setelah itu, pengawas karang memanggil kami karena air laut sudah pasang. Dan saya ngeri betul ketika menyadari jika air laut yang tadinya masih jauh di bawah karang saat itu sudah naik kurang dari dua meter dari bibir karang. Jadi, mau tidak mau, saya harus segera turun dari karang agar tidak terbawa pasang. Note: kunjungi Pantai Klayar saat pagi menjelang siang karena di atas jam 2, biasanya air sudah pasang dan berbahaya.
Setelah Pantai Klayar, tujuan selanjutnya dan juga merupakan tujuan terakhir saya adalah Pantai Teleng. Akses ke pantai ini tak sesulit ke Pantai Klayar, karena pantai ini terletak cukup dekat dengan kota. Hanya memakan waktu 10 menit dari pusat kota, pantai Teleng seperti halnya pantai pasir yang bisa dijadikan kawasan berbasah-basahan. Untuk dapat memasuki pantai ini, tiket masuknya adalah Rp 5.000,00 per orang dan Rp 2.000,00 untuk parkir kendaraan roda dua. Anda bisa memarkir kendaraan Anda di sepanjang bibir pantai. Dan seperti pantai-pantai yang terletak di tengah kota, kawasan pantai ini lumayan kotor dan tidak terawat. Sungguh disayangkan untuk wisata pantai yang menjadi salah satu andalan di kota ini. Di Pantai Teleng Ria ini anda juga dapat berbelanja ikan laut macam ikan marlin, tengiri, tuna, dan lain-lain. Para pedagang rata-rata menjual dengan harga yang sama untuk tiap jenis ikan.
Saat saya sudah bersiap-siap untuk meninggalkan pantai ini, saya baru menyadari jika saat itu merupakan saat bulan super atau yang biasa disebut supermoon. Matahari yang sudah tenggelam di barat serta kemunculan bulan di timur dan laut lepas di depan mata benar-benar perpaduan yang pas bagi saya. Akhirnya saya berangkat pulang ke kota Madiun pukul 18.30 diiringi sinar supermoon yang terang benderang. Pacitan, benar-benar surga kecil yang terlupakan.
-------------
Rabu, 20 Agustus 2014
Surga Yang Terlupakan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar