Senin, 22 Juli 2013

yungphapuccino: life is like a cappuccino

Seorang teman mengatakan bahwa sebaik-baik hidup adalah ketika kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Saya setuju dengan pendapatnya itu, akan tetapi seringkali saya berpikir, bagaimana caranya supaya kita bisa bermanfaat untuk orang lain? Lama saya mencari jawabannya, hingga kemudian saya menemukannya. Bukan dengan perenungan panjang yang menguras emosi, akan tetapi dengan kejadian kecil di suatu sore. Ketika saya menikmati minuman favorit saya, secangkir cappuccino.
Mengapa cappuccino?
Cappuccino, kopi dengan rasa manis dan pahit ketika kau menyeduhnya. Begitulah caramu menikmatinya. Kau harus merasakannya.
Cappuccino, selalu mempunyai topping indah dalam penyajiannya. Dengan beragam bentuk dan gambar indah di atas kopinya, hingga rasanya eman untuk menghancurkannya.
Tapi jika saya tidak menghancurkan gambar tersebut, bagaimana saya bisa merasakannya?
Jawabannya tidak sulit. Untuk dapat merasakan cappuccino, maka kau harus tega menghancurkan gambar yang seolah terukir indah di atasnya. Dengan demikian maka kau akan bisa menyeduhnya, menikmati sensasi rasa antara manis dan pahit yang diciptakan oleh olahan kopi terbaik.
Dan seperti itulah saya memaknai kehidupan: hancurkanlah zona indahmu, rasa nyaman dan amanmu. Maka dengan itu kau akan merasakan sensasi percampuran antara pahit dan manis. Manis dan pahit. Dan itulah kehidupan yang sebenarnya.
Life is like a cappuccino: kadang kita menemukan jawaban dari apa yang biasanya kita lalui, apa yang kita jalani, tapi kita terlalu menutup mata dan telinga hanya untuk sekedar memahaminya.
Life is like a cappuccino: hidup akan bermakna ketika kita sudah merasakan pahit dan manis di dalamnya.
Life is like a cappuccino: hidupkanlah dirimu terlebih dahulu, maka kau akan bisa bermanfaat bagi siapapun yang kau inginkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar