Kau sudah lelah. Semangatmu telah patah. Bukan karena kau menyerah, namun karena dia tak pernah berubah. Kau menyebutnya sebagai kekasih. Namun dia menganggapmu sebagai teman dari jauh. Bertahun-tahun kau menahan sesak di dadamu, tapi kau masih tetap bertahan. Hanya karena sebuah harapan. Padahal kau tahu pasti, harapan itu tak lebih kuat dari seutas benang.
Kau sudah letih. Hatimu tahu itu. Namun kau tetap gigih. Kau dayakan segala asamu untuk berpegang padanya. Harapan yang kau tahu pasti tak sekokoh tiang gantungan. Hanya saja, kau masih berharap, kepada angin yang berbaik hati mendesaukan namamu di telinganya, kepada rintik hujan yang kau tahu akan membuat memorinya terisi tentangmu, bahkan kepada terik matahari yang sinarnya menyilaukan matamu.
Kau tahu pasti, dia tak selalu bisa menunggumu. Namun kau akan selalu bisa menunggunya. Satu, dua, tiga, ataupun puluhan tahun berlalu, kenanganmu akan selalu terisi olehnya. Kenangan yang tak kunjung bosan berkunjung kepadamu hingga kau pun lelah menjamunya. Hingga kau mempersilakannya masuk seakan memorimu adalah rumahnya. Karena, kau sudah lelah. Kau sudah terlalu letih untuk tetap mengharapkannya.
***
Aku selalu yakin, jika aku akan bertahan dalam keadaanku ini. Walaupun nestapa selalu menyapaku ramah, hingga mungkin bahagia terlalu letih untuk sekedar berkunjung kepadaku. Namun aku yakin, jika kau pun akan bertahan untukku. Di sana. Di tempat yang akan kita tuju bersama.
Aku ingat jika kau selalu menyemangatiku, untuk hal-hal bodohku. Kemudian mengatakan, “ Aku mengharapkanmu.” Dengan senyum lembutmu.
Aku juga mengingat saat kita berteduh di rindangnya tenda angkringan pinggir kali kumuh itu. Kita bahkan tak mempedulikan tawa sinis orang sekitar. Toh, mereka tak tahu jika di situ itu ada keindahan yang tak pernah mereka sangka.
Kita berdua menyaksikannya. Matahari mega yang berpulang ke peraduan. Perpaduan nila serta jingga dengan semburat kemerahan. Kemewahan surgawi yang hanya didapatkan orang beberapa. Dan aku melihatnya. Bersamamu. Di pinggir kali kumuh itu. Menurutku, itu salah satu tanda jika kau memang untukku. Pun aku, memang untukmu. Bukankah Tuhan selalu memberikan saat yang tepat ketika kita menemui orang yang tepat? Karenanya, aku masih mempertahankannya. Mempertahankanmu. Meskipun hati ini rasanya bagai disayat sembilu.
Ah, aku selalu ingat. Kita mempunyai kenangan tentang matahari, angin, serta hujan. Bahkan alam berkonspirasi untuk kisah kita bukan? Dan aku mempercayainya, jika Tuhan sudah mempersiapkan akhir yang indah untuk kita.
“Bukankah kau terlalu naif?” kata karibku kepadaku, setelah bertahun-tahun melihatku masih berharap kepadamu.
Bukannya aku tak menyadari kenaifan diriku, namun aku masih berpegang teguh pada keyakinanku untukmu. Pada tanda-tanda yang diperlihatkan Tuhan kala kita bersama. “Aku tahu. Tapi tanda-tanda itu terus mengusikku.”
Karibku menghembuskan nafasnya. Panjang. “Kau hanya terlalu berharap. Padahal kau tahu itu hampir-hampir mustahil.”
Aku tersenyum kecil, bahkan rasanya senyum ini tak jua membawa kebahagiaan untukku. “Bukankah manusia akan terasa menyedihkan jika tak mempunyai harapan?”
“Namun harapanmu tak lebih tipis dari selembar kertas ini.” Dia memperlihatkan selembar kertas yang sedari tadi dipegangnya. Buram. Lalu dia meremasnya, dan merapikannya kembali. “Dan kini harapanmu layaknya kertas buram kumal ini.”
***
Kau mulai menyadarinya, perlahan. Namun itu selalu pasti. Tanda-tanda yang kau bangga-banggakan itu kini mulai lenyap. Alunan nada yang biasa berdendang di telingamu pun mulai pudar. Sunyi. Bahkan ketika mentari menampakkan semburat jingganya, kau tak lagi merasakannya. Rasa bahagia ketika dia di sampingmu dan menggenggam tanganmu.
Namun kau selalu menafikannya. Kau tak acuh. Selalu menjaga angan kosongmu dengan mengatakan pada dirimu, “Aku masih menunggumu. Aku tak pernah lelah dengan keadaan ini.” Dan tahukah kau apa akibatnya? Ketika kau melakukan semua ini, bahagia meninggalkanmu perlahan. Senyum serta kesetiaan terasa layaknya dongeng dari masa lampau. Namun kau selalu melakukannya. Tersenyum layaknya orang bodoh dan memegang tali harapan kuat-kuat. Hingga jemarimu melepuh tertusuk kuku. Hingga tanganmu kebas, terlanjur ngilu. Ah, kenapa kau selalu begitu? Kau terlalu dalam menjerumuskan diri dalam kesetiaan.
“Aku mengharapkanmu.” Lagi, kau terngiang kata-katanya. Bukankah itu sihir yang mengutukmu menjadi putri kelabu? “Tunggulah aku. Aku akan kembali kepadamu.” Dan sihir itu lengkaplah sudah. Kini kau menjadi putri kelabu yang tak akan terbangun tanpa ciuman dari dirinya.
Bukankah kau selalu mengatakan kepada dirimu? Kau bisa melakukannya. Sendiri. Kau tak membutuhkan siapa pun untuk mencapai anganmu. Tapi kini, sepertinya dia tak pernah membiarkanmu melakukannya. Dia malah membuatmu menjadi manusia tak dewasa. Merengek pada kehidupan, hingga akhirnya kau genggam harapanmu kuat-kuat, layaknya anak kecil yang mempertaruhkan segalanya demi mainan di tangannya.
Lalu, kau butakan mata dan tulikan telingamu. Kau hanya dengarkan apa yang ada hubungannya dengan dirinya. Selain itu, kau tak pedulikan. Semuanya kau hindarkan. Hanya karena kau tak ingin lagi mendengar ejekan orang-orang. Kau terlalu lugu! Kau hanyalah satu dari sekian korban yang mengatasnamakan itu sebagai suatu hal yang sakral. Andai kau memaknai kesakralan itu sebagai sesuatu yang lain. Sebagai suatu hal yang membawamu kepada suatu keabadian. Bukan angan semu yang hanya kau impikan.
***
“Sadarlah! Kau sudah terlalu lama menunggu!” lagi, karibku mengingatkanku tentang waktu penantianku.
Bukannya aku sombong, namun aku sendiri sudah terlalu fasih menyebutkan tentang waktu. Tentang berapa lama aku menunggumu. Itu sudah mengetal dalam ingatanku. Rentang waktu yang tak bisa kusebut sebentar. Namun tak pula bisa kusebut lama untuk suatu hal yang disebut kesetiaan.
“Sepuluh tahun kau habiskan layaknya orang gila untuknya. Kau sudah tak muda lagi...”
“Aku tahu.” Kataku. “Aku jauh lebih tahu tentang waktu daripada dirimu.”
Karibku mengedikkan bahu. Lalu memandangku iba. “Entah kau itu bodoh atau setia. Kadang dua kata itu sukar dibedakan.”
Dan aku hanya tersenyum kecut mendengarnya.
***
Nah, kini kau meraung-raung dalam tangismu. Setelah kau tahu apa yang terjadi kepadanya. Satu dasawarsa dia meninggalkanmu. Dan kau mengatasnamakan kesetiaan untuk diam menunggunya. Lalu kini? Bukankah waktu terasa menertawaimu? Mengejek ketololanmu, kekeraskepalaanmu untuk tetap berada di jalur yang kau sebut sebagai tanda. Bukankah kau sudah menyadarinya? Ketika tanda itu mulai hilang perlahan, ketika bahkan kau tak menyadari keberadaannya di dalam alam nyata maupun khayalmu.
Tanda-tanda itu mulai menjauh, namun kau tak kunjung melepasnya. Ah, andai kau melepasnya sedari dulu, mungkin sekarang kau tak lagi terkungkung dalam nestapamu. Bebas. Lepas. Tak lagi kau menunggu pangeran yang membangunkan warna-warnimu. Ah, andai kau mampu untuk melepasnya dulu, tak akan kau sia-siakan masamu.
Kini kesetiaan yang kau agung-agungkan sudah beralih rupa. Dia yang kau tunggu pun sudah lupa. Bukankah kau juga berpikir demikian? Setelah kau menerima selembar kertas darinya dan namamu berada di kolom tamu undangan.
-END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar