Aku sudah lelah mendustaimu. Lama. Aku hanya menyimpannya seorang diri di sini. Beginikah cara kerja sesuatu yang dinamakan cinta? Merindukannya siang dan malam layaknya orang gila, mendapatkan hatinya, kemudian menginjak-injaknya layaknya bagkai tak berharga. Beginikah cara kerja sesuatu yang disebut cinta? Mengutarakan kata demi kata mesra, namun di baliknya mengingkarinya dalam keheningan. Aku sudah terlalu letih mendustaimu dalam diamku.
Bukan. Ini bukan salahmu. Namun ini hanyalah kepengecutan yang melandai diriku. Aku sudah lelah menafikan cinta. Hanya dengan satu tindakan, bahkan dirimu pun tidak dapat aku gapai dalam kenanganku. Maafkan aku yang tidak bisa jujur kepadamu. Maafkan aku yang mempunyai mulut dengan seribu kata. Maafkan aku yang menjanjikan semua untukmu namun kubalikkan semua itu dengan satu perbuatanku. Maafkan aku…
Aku mencintaimu. Sangat. Bahkan seluruh kehidupanku seolah untukmu. Tindak-tandukmu menjadi kesakralan bagiku. Aku mencintaimu. Lebih daripada yang kau tahu. Aku mencintaimu…
Kau katakan kepadaku jika kau tak tahan memiliki diriku yang tak bisa mengepakkan sayapku. Dan untuk itulah aku terbang. Untukmu. Bebas di angkasa untuk kemudian pulang ke peraduan. Namun sekali waktu, aku terbang terlalu tinggi, hingga matahari melumpuhkan sayapku.
Dan aku berpeluh. Dengan sayap yang sudah tak lagi kumiliki, kuberjalan meniti hari, menuju sangkarmu. Dan di sana, kau menungguku, dengan tangan terbuka siap memeluk tubuhku. Dengan lengan hangat yang selalu mengayomiku. Engkau yang kucintai, selamanya kucintai.
***
‘Sayang, sedang apakah?’
Kuraih handphone-ku dan mendapati pesan instan darimu yang selalu hadir ketika matahari masih terkantuk-kantuk di ufuk timur.
‘Menulis.’ Jawabku singkat. Dan tak usah kumenunggu lama, handphone-ku langsung menampakkan huruf ‘r’ di pesanku itu.
‘Untuk cerpen barumu?’
Kutarik nafas dalam-dalam barang sebentar, lalu kuketikkan jemariku di atas keypad ponselku.
‘Bukan.’ Kataku. ‘Untuk kamu.’
‘Untukku?’ balasnya lagi. ‘Apakah itu?’
Aku tersenyum kecut membaca pesannya. Untunglah dia sekarang tak ada di depanku. Jika tidak, pasti dia akan menangkap keanehan dalam rona wajahku.
‘Nanti…’ tulisku lagi. ‘Ketika kita bertemu lagi, akan kusampaikan kepadamu.’ Janjiku.
Sudah terbaca olehnya pesanku itu, namun belum juga dibalasnya. Tiga detik. Lima. Hingga tiga belas detik. ‘Okayy.’ Akhirnya dia menuliskannya.
Aku menarik nafas panjang, seolah itu adalah nafas terakhir yang harus kusimpan untuk sisa kehidupanku. Kupejamkan mataku, membayangkan apa yang akan terjadi jika dia mengetahuinya. Dia yang berada jauh ratusan kilometer jaraknya dariku saat ini.
‘Aku mencintaimu.’ Tulisnya lagi.
Ini dia. Batinku. Lagi, kupejamkan mataku rapat-rapat, berusaha mengenyahkan ingatanku tentang kejadian yang menghantuiku. ‘me too.’ Balasku. Dan aku tertawa ketika membacanya lagi. Me too. Me too, kataku. Lalu apa yang kau lakukan beberapa hari yang lalu? Tanyaku pada diriku sendiri.
***
“Saka, maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku?” kata Raga kepadaku, di sebuah kafe bernuansa rindang dengan kursi-kursi kayu yang ditata apik.
Mataku berkaca-kaca. Sungguh, inilah yang aku tunggu-tunggu seumur hidupku. Ketika lelakiku mengucapkan kalimat ini kepadaku. Laiknya cermin yang berair, maka Raga akan melihat bayangannya di mataku yang sudah dipenuhi air mata ini.
Dia tersenyum lembut, masih sama seperti senyum pertamanya sejak aku mengenalnya. Sungguh, dialah lelakiku. Lelaki dambaanku.
Seharusnya, aku langsung saja menganggukkan kepalaku untuk menyetujui perkataannya. Atau mungkin aku bisa saja memeluknya di kerindangan kafe ini, tanpa mempedulikan tatapan dari pengunjung lain. Toh dia lelakiku. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Tidak. Aku benar-benar tidak bisa melakukannya. Jadi aku menggeleng. Meskipun itu akan meremukkan hatiku…
“Kenapa?” tanyanya bingung. Kulihat pendar senyum kekanakannya yang tadi mengembang di wajahnya pupus sudah. Berganti tatapan kebimbangan.
“Tidak bisa. Aku tidak baik untukmu.”
Dia menggenggam tanganku yang sedari tadi kuletakkan di atas meja.
“Itu hanya perasaanmu. Kau selalu baik untukku.” Kini senyum lembut itu mengembang lagi di wajahnya.
Aku melihatnya dengan keseluruhan hatiku yang hancur. Kugelengkan kepalaku kuat-kuat. “Tidak. Aku tidak baik.” Kataku ngeyel.
Diremasnya tanganku yang sudah dikuasainya. “Kenapa berpikir begitu?”
Ini dia. Ini dia pertanyaan yang kurasa akan meluluhlantakkan diriku. Dan jawabanku pun akan menghancurkan dirinya, lelaki yang kucintai itu.
“Aku sudah menulisnya di sini.” Kutarik tanganku dari genggamannya dan mengambil sepucuk kertas dari tasku.
Dia mengerutkan dahinya. “Kenapa tidak kau katakan langsung?”
Kugigiti bibirku. Gugup. “Kau selalu tahu jika aku tidak pandai berbicara. Makanya kutuliskan itu untukmu.”
Ditatapnya diriku dengan penuh rasa penasaran. Dia mengedikkan bahunya, lalu mulai membuka kertas itu.
“Tunggu!” perintahku.
Dia terhenti.
“Biarkan aku pergi dulu, baru kau baca itu.”
Dia semakin menautkan alisnya yang indah itu. “Kenapa?”
“Sudahlah. Pokoknya lakukan itu.” Pintaku.
Lagi, dikedikkannya bahunya yang berotot itu.
“Aku akan pergi sekarang, biar kau bisa segera membacanya.”
Dia hanya mengangguk.
“Aku mencintaimu.” Kataku sambil bersiap meninggalkannya.
“Aku ju…” kuputus kalimatnya itu dengan jari telunjukku.
“Katakan itu setelah kau membacanya.”
***
Dan aku berpeluh. Dengan sayap yang sudah tak lagi kumiliki, kuberjalan meniti hari, menuju sangkarmu. Dan di sana, kau menungguku, dengan tangan terbuka siap memeluk tubuhku. Dengan lengan hangat yang selalu mengayomiku. Engkau yang kucintai, selamanya kucintai.
Bahkan rasanya, ketika dirimu datang ke kehidupanku, alam semesta seolah menunjukkan kuasanya kepadaku. Kau membebaskanku dari sangkar emasku. Aku menemukan diriku. Terima kasih untukmu.
Namun aku terbang terlalu bebas, hingga aku melupakan dirimu. Aku mencumbu dirinya, tanpa aku teringat kepadamu. Maaf kepadamu.
Namun aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.
“Aku juga mencintaimu.” Suara Raga memenuhi telingaku.
Dia meneleponku, saat aku sudah berada di kereta menuju rumahku. Sangkar emasku. Mataku berkaca-kaca.
“Kau memaafkanku?” tanyaku terisak.
“Aku mencintaimu.” Hanya itu jawaban yang kudengar dari telepon yang menghubungkan diriku dan dirinya itu.
-END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar