Rabu, 20 Agustus 2014

Andaikan Engkau Menjadi Aku

Andaikan engkau menjadi aku, tidak akan pernah terucap amarah dari bibirmu kepada dia.
Andaikan engkau menjadi aku, tidak akan pernah engkau biarkan emosi menguasai hingga ubun-ubunmu dan engkau limpahkan kepada dia.
Andaikan engkau menjadi aku, tidak akan pernah tega engkau mengatakan ‘tidak’ untuk setiap permintaannya.
Andaikan engkau menjadi aku, engkau akan rela melakukan apa saja untuk membuatnya tersenyum.
Andaikan engkau menjadi aku, tak akan pernah engkau temukan kata yang bisa menggambarkan ketulusan hatinya.
Andaikan engkau menjadi aku, engkau akan selalu menyertakan dia di dalam setiap munajatmu.
Andaikan engkau menjadi aku…
Andaikan engkau menjadi aku…
Dan sayangnya, engkau bukanlah aku. Dan tak akan pernah bisa menjadi aku.

***

Aku hanyalah sebuah barang yang selalu dia bawa ke mana pun dia pergi. Bukan benda berharga sepertimu memang, tapi katanya, aku selalu mengingatkannya tentang dirimu. Dia selalu membawaku di saku baju lusuhnya, yang jahitannya sudah terkoyak karena usia yang tentunya memakan waktu yang lama.
Kau tahu? Di saku ini aku selalu bisa memperhatikannya. Segala kelelahannya, keletihannya, semuanya. Aku bisa melihatnya. Tapi anehnya, dia tak pernah mengeluh walaupun semua aral menghunjamnya, menusuknya hingga bernanah. Apalagi jika dia merogoh kantung bajunya dan melihat aku, dia akan tersenyum bahagia. Seolah itu semua bukan apa-apa. Aku bukanlah benda berharga, tak seberharga dirimu memang, tapi aku selalu dibawanya. 
“Ini kubawa agar aku bisa selalu mengingat dirinya saat dia jauh.” Itu yang dikatakannya kepada orang-orang yang bertanya kepadanya mengapa dia membawa barang kumal seperti diriku.
Padahal andaikan engkau tahu, dia selalu mengingatmu dalam setiap waktunya. Sebenarnya dia tak butuh aku, tapi dia selalu membawaku di dalam kantung baju safarinya. Aku memang tak seberharga dirimu baginya, tapi aku jauh lebih mengerti semua pengorbanan yang dia lakukan untukmu dibandingkan dirimu.
Pernah suatu waktu dulu, ketika engkau sudah mulai bisa memanggilnya, dia menangis sesenggukan dan menggunakan aku sebagai pengusap air mata sucinya. Dia menangis bahagia untukmu. Apa engkau tahu itu? Ketika engkau lahir ke dunia ini dan untuk pertama kalinya aku dia kenakan kepadamu, hingga saat ini ketika engkau sudah beranjak dewasa dan mulai melupakan asal-usulmu. Benar, aku adalah helaian kecil kain jarit yang dia gunakan untuk membungkus tubuh merahmu ketika engkau baru lahir dahulu. Dia sengaja memotong-motong bagian diriku agar bisa dibawanya ke mana pun dia suka.
Apakah engkau tahu? Apa yang telah dia lakukan ketika engkau masih terbungkus olehku? Mungkin engkau tahu dari cerita. Dan kali ini sama. Aku akan menceritakannya padamu. Karena engkau bukanlah aku, dan engkau tidak akan merasakan yang sama dengan apa yang telah kusaksikan sepanjang tiga windu ini.

***

Dulu aku adalah kain jarit yang paling indah motifnya di antara rekan-rekanku. Dan dia menemukanku, di antara tumpukan kain yang berjejer di pasar. Aku ingat saat itu, dia sedang berbadan dua dan datang dengan daster bunga-bunga yang terlihat kampungan. Dia sangat hati-hati dalam memilih kain untuk buah hatinya. Hingga dia menemukanku. Kain jarit coklat bercorak dengan gradasi warna hitam. Bukannya aku sombong, tapi aku adalah yang terindah saat itu. Baik untuk warnaku, motifku, hingga bahanku. Dan tentunya hargaku juga tak murah untuk kalangan bawah. Tapi dia memilihku, wanita berbadan dua yang mengenakan daster murahan.
“Tidak apa mahal, ini untuk anakku.” Itu yang dikatakannya kepada penjualku. Padahal dengan membeliku, dia akan menghabiskan seluruh uang yang dibawanya ke pasar di kampung itu. Alhasil dia pun membawaku, dengan senyuman puas karena dia bisa memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Itu adalah awal pertemuanku dengannya. Wanita berbadan dua dengan daster bermotif  kampungan.
Andaikan engkau menjadi aku, engkau akan tahu jika dia membesarkanmu dengan hati-hati. Dengan seluruh cinta yang dipunyainya, yang tidak akan pernah lekang oleh waktu, bahkan oleh kata-kata kasarmu.
Engkau masih bertanya kepadaku mengapa aku bisa berkata begitu? Baiklah, akan kuceritakan satu lagi kepadamu. Cerita yang bahkan aku pun sanggup membencimu. Tapi dia, selalu bisa memaafkanmu.
Dia bukanlah wanita kebanyakan yang bisa membagi waktunya untuk bersolek dan berpesta bersama teman-temannya. Justru dia adalah wanita yang membagi waktunya dengan nyawanya. Hanya untuk menafkahimu. Memberikannya apa yang dirasanya itu terbaik untukmu.
Seperti yang engkau tahu, engkau sudah ditinggalkan bapakmu sejak engkau masih delapan bulan di kandungan. Dan dia membesarkan dirimu hingga saat ini, tiga windu setelah aku pertama berjumpa dirinya di pasar kumuh yang sekarang sudah menjadi gedung menjulang. Dia terus bekerja, tak kenal lelah agar bisa membawakanmu makanan sepulangnya agar perutmu kenyang. Andaikan engkau tahu, demi makananmu itu, dia hanya makan sekali sehari, kadang hanya minum air dalam kurun waktu dia membuka mata hingga dia memejamkannya lagi.
Dan dia berjuang bertaruh nyawa. Seperti yang engkau tahu, dia bukanlah pekerja kantoran yang mempunyai penghasilan tetap dan pakaian necis. Dia hanyalah tukang parkiran yang ada di pinggir jalan. Andaikan engkau tahu, dia mempertaruhkan nyawanya setiap hari demi dirimu. Berada di jalanan yang dilewati truk dan kendaraan besar-besar. Tapi dia tak pernah mengeluh, karena yang dia tahu hanyalah memberikan makan untuk anak yang menungguinya di rumah.
Memang, dia tak seperti wanita lain yang bisa membelikan apa saja untuk anaknya. Dia hanya mengatakan ‘nanti’ ketika engkau meminta sesuatu dari dia. Dan engkau selalu mendahulukan emosimu bukan ketika dia menjanjikanmu begitu? ‘Lagi-lagi nanti, lagi-lagi nanti’. Itu pikirmu. Tapi tahukah engkau jika dia merasa nelangsa ketika dia tak mampu menuruti inginmu?
Bahkan ketika engkau membanting pintu di depan wajahnya saat engkau meminta handphone karena teman-temanmu sudah memilikinya dan dia seperti biasa hanya mengatakan ‘nanti’, dia hanya menangis tanpa suara di dalam ruangan yang engkau tinggalkan. Diggigitnya bibirnya hingga berdarah, agar engkau tak mendengar isakannya. Agar engkau tidak mengkhawatirkan dirinya. Karena dia tidak mau membuatmu khawatir. Yang dia inginkan hanya melihat engkau bahagia.
Lalu ketika dia sudah berhasil memberimu barang yang engkau pinta, engkau bahkan tidak memeluknya atau menciumnya atas kerja kerasnya. Engkau hanya tersenyum tersipu sambil menciumi handphone yang engkau pinta. Dan apa yang dia lakukan? Dia juga tersenyum melihat engkau begitu. Karena dia tahu engkau bahagia.
Masih ingin aku ceritakan kelakuanmu yang bahkan bisa membuat lambungmu memerah jika engkau mengingatnya? Maka akan kuceritakan lagi kalau begitu.
Ingatkah ketika engkau mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikanmu ke luar kota? Ingat apa yang engkau lakukan? Apa yang engkau sampaikan kepadanya? Aku akan menguak sedikit memorimu yang mungkin sudah sedikit sirna oleh waktu.
Waktu itu engkau menghambur ke pelukannya. Menciuminya dengan cara yang tidak pernah engkau lakukan sebelumnya. Memberitahunya bahwa engkau mendapatkan beasiswa dan akan pergi meninggalkannya. Untuk menuntut ilmu, katamu. Namun sebenarnya dalam lubuk hati kecilmu engkau bahagia karena engkau akan pergi meninggalkannya. Meninggalkan kehidupan delapan belas tahunmu dan menyongsong kehidupan baru di kota tujuanmu. Engkau bahagia karena akan terlepas darinya. Makanya, engkau memeluknya dengan cara yang tidak biasa.
Tapi tahukah engkau ketika engkau meninggalkan ruangan, lagi-lagi dia menangis pilu dalam dekapanku, kain jarit lusuh yang tidak berharga bagi orang-orang, bahkan bagimu. Dia menangis bukan karena engkau tinggalkan, akan tetapi dia menangis karena bahagia melihat engkau selangkah lebih dekat dengan impianmu. Dia menangis karena mengkhawatirkan dirimu, bagaimana engkau bisa hidup di luar sana seorang diri padahal selama delapan belas tahun ini engkau tak pernah lepas dari dirinya. Bukan, dia bukan menangis karena engkau akan meninggalkannya. Dia menangis karena mengkhawatirkan keadaanmu.
Bahkan hingga kini pun, ketika engkau sudah terlalu terlena dengan kehidupanmu, dia masih dan selalu mengkhawatirkan dirimu. Walaupun kini engkau sudah merasa dewasa dan mengirim uang bulanan untuknya, dia masih mencemaskanmu.
Tahukah engkau jika dia selalu mendekapku dalam tidurnya? Hanya untuk mengingat baumu yang lama sudah tak pernah menghampirinya. Dan tahukah engkau jika setiap sore dia selalu duduk di dipan depan rumah? Itu dia lakukan untuk menyambut kedatanganmu. Padahal kedatanganmu tak pernah lebih dari setahun dua kali, tapi dia tetap setia menunggu di dipan itu.
Dia tak pernah melupakanmu dalam doanya. Dalam setiap hembusan nafasnya, dia selalu meminta kepadaNya untuk keselamatanmu. Dia tak pernah mengharapkan lebih. Dia hanya menginginkan keselamatanmu dalam menjalani kehidupanmu.
Andaikan engkau tahu, sekarang usianya sudah tak lagi muda. Kakinya sudah tak mampu lagi menopang tubuh limbungnya. Dan pernahkah terbersit dalam pikiranmu, apa yang sudah engkau lakukan untuknya? Memberikan uang bulanan, jawabmu? Pernahkah terpikir olehmu jika dia tak hanya memberimu uang bulanan bahkan tahunan? Dia juga telah membesarkanmu. Menjadikanmu pribadi seperti engkau sekarang ini.
Ah, andai engkau meluangkan waktumu barang sejenak untuk menyimak ceritaku, mungkin saat ini pikiranmu sudah melayang kepada sosok wanita nomor satu di dalam hidupmu itu. Cobalah barang sebentar saja, luangkan waktumu untuk mendengarkan suaranya. Lebih-lebih jika engkau mau menemuinya dan memeluknya. Aku yakin, aku yang menjadi teman tidur dalam setiap malamnya tak akan berarti apa-apa. Aku yang yang menjadi tempat mengusap air matanya yang mengalir karena engkau akan menjadi barang tak berharga seperti yang selalu engkau katakan kepadanya. Karena dia hanya akan memperhatikanmu. Karena engkaulah sesungguhnya hartanya yang paling berharga.
Engkau hanya menyimak ceritaku bukan? Engkau bahkan belum menjadi diriku. Bahkan, bumi dan benda-benda mati sepertiku ini bisa memahami ketulusan kasihnya. Dan sekarang pikiranmu sudah penuh dengan kelakuan-kelakuanmu terdahulu yang selayaknya tak engkau berikan kepadanya. Menyesalkah engkau?
Andaikan engkau menjadi aku, aku yakin engkau tak akan pernah berkata kasar kepadanya.
Andaikan engkau menjadi aku, engkau tak akan menemukan hal yang lebih berharga selain melihat senyum di wajahnya yang sudah mulai keriput.
Andaikan engkau menjadi aku, maka engkau tak akan pernah rela meninggalkan dia barang sebentar. Dia yang telah menjagamu semenjak engkau masih merah hingga engkau menjadi orang dengan baju berkerah.
Andaikan engkau menjadi aku, maka yang akan engkau lakukan sekarang adalah memanggil sebutan yang selalu engkau berikan kepadanya.
Andaikan engkau menjadi aku…
Andaikan engkau menjadi aku…
Dan sayangnya, engkau tidak pernah menjadi aku.
***

1 komentar: