“Suka kopi?”
Itu adalah hal pertama yang selalu
kutanyakan kepada orang yang baru pertama kali kukenal. Setelah namanya,
tentunya. Bukan tanpa alasan aku menanyakan hal itu. Karena aku memang pecinta
kopi. Latte, Robusta, Arabican, Cappuccino, hingga kopi-kopi khas nusantara
lainnya sudah pernah aku cicipi. Dan pertanyaanku itu selalu bisa lebih
mengakrabkanku dengan orang yang baru kukenal.
Aku pernah menjelajahi warung kopi
pinggir jalan hingga kafe yang harganya tidak main-main hanya untuk secangkir
kopi. Dan aku lebih menyukai minum kopi di warung-warung kecil pinggir jalan
sebenarnya. Seperti saat ini. Aku menunggu jadwal keberangkatan keretaku dari Stasiun
Tugu Yogyakarta. Di warung kopi di depan stasiun. Dan masih ada waktu satu jam
lagi sebelum keretaku berangkat.
Warung ini sudah sangat terkenal
dengan kopinya yang ditambahi arang membara ke dalamnya. Dan saat ini aku
sedang menikmati kopi itu. Rasa arang yang tercampur aroma khas dari kopi itu
seperti menggugah seleraku untuk menikmatinya secara perlahan. Aku sendirian
saat itu. Setelah melewati masa dinasku selama tiga hari di kota bersejarah
ini, aku akan meninggalkannya malam ini.
Aku duduk di tikar yang sudah
disediakan di sana. Sambil menikmati lalu lalang kendaraan yang melintas di
jalanan antara warung ini dengan Stasiun Tugu.
“Bruk!” tiba-tiba aku mendengar suara
tas yang dilemparkan ke tikar yang kududuki oleh pemiliknya. Aku meliriknya
sambil menyesap kopi arangku. Seorang pemuda berusia pertengahan dua puluhan.
Lalu dia ikut melemparkan dirinya ke tikar itu. Duduk di sebelahku sambil
mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dan sekarang aku sudah tidak
meliriknya. Aku sudah menatapnya dengan pandangan heran. Beginilah jika di
warung kopi pinggir jalan, kamu akan menemui berbagai macam orang, dengan
berbagai macam tabiat.
“Ah, maaf. Aku mengejutkanmu, ya?”
aku mendengar nada sungkan dari suaranya.
Aku menggeleng. “Tidak juga.” Kataku
sambil menaruh kembali gelasku.
Dia menyandarkan tubuhnya ke tas yang
tadi dijatuhkannya.
“Suka kopi?”
Biasanya itu adalah pertanyaanku.
Tapi kali ini itu kudengar bukan dari mulutku. Aku menoleh kepadanya. Dia masih
bersandar di tasnya dan menerima segelas kopi yang sudah dipesannya.
Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Suka.” Kataku.
Dia meletakkan gelasnya ke tanah,
lalu membuka tutupnya. “Sama.” Katanya sambil tersenyum dan mengangkat sebelah
alisnya.
“Menunggu kereta?” tanyaku sambil
melirik ke tas besarnya yang tadi sedikit mengagetkanku itu.
Dia mengangguk. “Kamu?” tanyanya
sambil melirik koper yang kuletakkan di belakangku.
“Sama.” Kataku sambil tersenyum dan
menyesap kopiku lagi.
“Kuliah?” tanyanya lagi.
“Dinas.” Jawabku. “Kamu?”
“Sama.” Kali ini dia menjawabnya
sambil tertawa. Aku ikut-ikut tertawa.
“Berapa kali kita samaan tadi?”
tanyanya lagi.
Aku mengedikkan bahuku. “Banyak.”
Kami tertawa bersamaan. Seperti
inilah yang kusuka dari warung kopi pinggir jalan. Kamu bisa dengan mudahnya
akrab dengan orang yang baru kamu kenal. Di saat itu juga. Dan kamu bisa bebas mengobrolkan
berbagai macam topik, mulai dari pendidikan, olahraga, politik, pemerintahan,
hingga yang sedikit pribadi. Tapi saat itu aku dan dia tidak membicarakan
masalah pribadi. Sama sekali.
Aku melihat ke jam tanganku. Sudah
waktunya. Sayang sekali.
“Aku harus pergi.” Sesalku. “Sudah
waktunya keretaku berangkat.”
“Oh… Baiklah.” Dia mengambil
gelasnya. Menghabiskan kopi yang masih tersisa di dalamnya.
“Aku pergi dulu.” Pamitku sambil
berdiri dan membayar kopiku.
“Ah, tunggu. Aku juga.” Katanya. “Keretaku
juga hampir berangkat.”
Aku mengangguk. Dia berdiri dan
menggendong tas besarnya di punggung.
“Perlu bantuan?” dia menawarkan
bantuannya ketika melihatku agak kesusahan menarik koperku.
“Tidak perlu.” Kataku sambil
menggeleng. Aku menunggunya sebentar untuk membayar kopinya. Kemudian kami
berjalan bersama menuju ke stasiun. Di perjalanan yang cukup panjang namun
singkat itu, kami tidak bicara apa-apa lagi. Hingga kami masuk ke dalam peron.
Lalu aku mendengar pengumuman bahwa
keretaku akan segera berangkat.
“Baiklah, kita berpisah di sini.”
Pamitku setelah melewati pemeriksaan tiket.
Dia mengangguk. “Sampai jumpa.”
Aku tersenyum mendengarnya. Sampai
jumpa. Bukan selamat tinggal. Padahal kami baru saja bertemu. Bahkan aku belum
mengetahui namanya. Ah iya, nama. Aku harus menanyakannya.
“Siapa namamu?” mulut kami bersuara
bersamaan saat menanyakan hal barusan.
Lalu aku dan dia tertawa
bersama-sama. Dia mempersilakanku duluan.
“Ratri.” Kataku.
Dia mengulurkan tangannya sambil
tersenyum. “Hanafie.”
Aku menyambut uluran tangannya dan
membalas senyumnya.
“Baiklah, Hanafie. Kita harus
berpisah di sini sekarang.” Kataku, sekali lagi. “Sampai jumpa.” Lalu aku
melangkah menuju ke keretaku. Dan ketika aku menoleh kepadanya, dia sudah tidak
ada di tempatnya. Hatiku sedikit kecewa. Beginilah, jika ada pertemuan pasti
ada perpisahan. Aku sering mengalaminya. Jadi aku memantapkan langkahku menuju
pintu keretaku.
Aku menemukan tempat dudukku. Di sebelah
jendela. Sedangkan di sebelahnya masih kosong. Lalu aku segera menempati
kursiku. Dan karena di sebelah jendela, aku bisa bebas melihat ke luar kereta.
Mataku masih mencari sosoknya. Hanafie. Namun aku tidak menemukannya hingga speaker memperdengarkan suara yang mengumumkan
bahwa keretaku akan berangkat. Sayang sekali.
Aku mengambil surat kabar yang kubeli
tadi pagi namun belum sempat kubaca. Aku
membuka lebar-lebar koran itu hingga menutupi diriku . Headline-nya adalah harga daging sapi
yang menembus harga seratus ribu rupiah di pasaran. Ya biasalah, masa-masa
sebelum puasa memang selalu seperti ini, batinku. Tadi aku juga membicarakannya
dengan Hanafie. Lalu aku melanjutkan bacaanku ke berita yang lainnya. Namun aku
tidak bisa fokus karena keretanya bergoyang tidak nyaman. Jadi aku menutup
koran itu. Melipatnya dengan rapi dan menyimpannya kembali ke dalam tasku.
Aku berencana untuk memejamkan mataku
setelah itu sebelum aku menyadari bahwa ternyata di sampingku sudah ada
orangnya. Dia sedang membaca majalah olahraga dan tidak mempedulikanku. Tapi
aku tahu siluet wajah dari samping itu. Aku melihatnya satu jam yang lalu. Di warung
kopi di depan stasiun.
“Hanafie?” sapaku.
Dia mengangkat wajahnya dari majalah
yang asyik ditekuninya itu. Lalu wajahnya nampak terkejut melihatku.
“Ratri?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Ternyata kereta kita sama.” Katanya
sambil tertawa kecil. “Tunggu. Jangan-jangan tujuan kita juga sama?” dia
mengira-ngira.
“Kamu mau ke mana?” aku menanyakan
tujuannya.
“Bandung.” Jawabnya singkat. “Kamu?”
Aku tersenyum mendengarnya. Lalu
berkata, sekali lagi, “Wah… sama…”
Dan sepertinya pembicaraan kami tidak
akan berhenti sampai di situ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar