Senin, 22 Juli 2013

Kopi, Aku, dan Kamu



“Suka kopi?”
Itu adalah hal pertama yang selalu kutanyakan kepada orang yang baru pertama kali kukenal. Setelah namanya, tentunya. Bukan tanpa alasan aku menanyakan hal itu. Karena aku memang pecinta kopi. Latte, Robusta, Arabican, Cappuccino, hingga kopi-kopi khas nusantara lainnya sudah pernah aku cicipi. Dan pertanyaanku itu selalu bisa lebih mengakrabkanku dengan orang yang baru kukenal.
Aku pernah menjelajahi warung kopi pinggir jalan hingga kafe yang harganya tidak main-main hanya untuk secangkir kopi. Dan aku lebih menyukai minum kopi di warung-warung kecil pinggir jalan sebenarnya. Seperti saat ini. Aku menunggu jadwal keberangkatan keretaku dari Stasiun Tugu Yogyakarta. Di warung kopi di depan stasiun. Dan masih ada waktu satu jam lagi sebelum keretaku berangkat.
Warung ini sudah sangat terkenal dengan kopinya yang ditambahi arang membara ke dalamnya. Dan saat ini aku sedang menikmati kopi itu. Rasa arang yang tercampur aroma khas dari kopi itu seperti menggugah seleraku untuk menikmatinya secara perlahan. Aku sendirian saat itu. Setelah melewati masa dinasku selama tiga hari di kota bersejarah ini, aku akan meninggalkannya malam ini.
Aku duduk di tikar yang sudah disediakan di sana. Sambil menikmati lalu lalang kendaraan yang melintas di jalanan antara warung ini dengan Stasiun Tugu.
“Bruk!” tiba-tiba aku mendengar suara tas yang dilemparkan ke tikar yang kududuki oleh pemiliknya. Aku meliriknya sambil menyesap kopi arangku. Seorang pemuda berusia pertengahan dua puluhan. Lalu dia ikut melemparkan dirinya ke tikar itu. Duduk di sebelahku sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dan sekarang aku sudah tidak meliriknya. Aku sudah menatapnya dengan pandangan heran. Beginilah jika di warung kopi pinggir jalan, kamu akan menemui berbagai macam orang, dengan berbagai macam tabiat.
“Ah, maaf. Aku mengejutkanmu, ya?” aku mendengar nada sungkan dari suaranya.
Aku menggeleng. “Tidak juga.” Kataku sambil menaruh kembali gelasku.
Dia menyandarkan tubuhnya ke tas yang tadi dijatuhkannya.
“Suka kopi?”
Biasanya itu adalah pertanyaanku. Tapi kali ini itu kudengar bukan dari mulutku. Aku menoleh kepadanya. Dia masih bersandar di tasnya dan menerima segelas kopi yang sudah dipesannya.
Aku mengangguk sambil tersenyum. “Suka.” Kataku.
Dia meletakkan gelasnya ke tanah, lalu membuka tutupnya. “Sama.” Katanya sambil tersenyum dan mengangkat sebelah alisnya.
“Menunggu kereta?” tanyaku sambil melirik ke tas besarnya yang tadi sedikit mengagetkanku itu.
Dia mengangguk. “Kamu?” tanyanya sambil melirik koper yang kuletakkan di belakangku.
“Sama.” Kataku sambil tersenyum dan menyesap kopiku lagi.
“Kuliah?” tanyanya lagi.
“Dinas.” Jawabku. “Kamu?”
“Sama.” Kali ini dia menjawabnya sambil tertawa. Aku ikut-ikut tertawa.
“Berapa kali kita samaan tadi?” tanyanya lagi.
Aku mengedikkan bahuku. “Banyak.”
Kami tertawa bersamaan. Seperti inilah yang kusuka dari warung kopi pinggir jalan. Kamu bisa dengan mudahnya akrab dengan orang yang baru kamu kenal. Di saat itu juga. Dan kamu bisa bebas mengobrolkan berbagai macam topik, mulai dari pendidikan, olahraga, politik, pemerintahan, hingga yang sedikit pribadi. Tapi saat itu aku dan dia tidak membicarakan masalah pribadi. Sama sekali.
Aku melihat ke jam tanganku. Sudah waktunya. Sayang sekali.
“Aku harus pergi.” Sesalku. “Sudah waktunya keretaku berangkat.”
“Oh… Baiklah.” Dia mengambil gelasnya. Menghabiskan kopi yang masih tersisa di dalamnya.
“Aku pergi dulu.” Pamitku sambil berdiri dan membayar kopiku.
“Ah, tunggu. Aku juga.” Katanya. “Keretaku juga hampir berangkat.”
Aku mengangguk. Dia berdiri dan menggendong tas besarnya di punggung.
“Perlu bantuan?” dia menawarkan bantuannya ketika melihatku agak kesusahan menarik koperku.
“Tidak perlu.” Kataku sambil menggeleng. Aku menunggunya sebentar untuk membayar kopinya. Kemudian kami berjalan bersama menuju ke stasiun. Di perjalanan yang cukup panjang namun singkat itu, kami tidak bicara apa-apa lagi. Hingga kami masuk ke dalam peron.
Lalu aku mendengar pengumuman bahwa keretaku akan segera berangkat.
“Baiklah, kita berpisah di sini.” Pamitku setelah melewati pemeriksaan tiket.
Dia mengangguk. “Sampai jumpa.”
Aku tersenyum mendengarnya. Sampai jumpa. Bukan selamat tinggal. Padahal kami baru saja bertemu. Bahkan aku belum mengetahui namanya. Ah iya, nama. Aku harus menanyakannya.
“Siapa namamu?” mulut kami bersuara bersamaan saat menanyakan hal barusan.
Lalu aku dan dia tertawa bersama-sama. Dia mempersilakanku duluan.
“Ratri.” Kataku.
Dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum. “Hanafie.”
Aku menyambut uluran tangannya dan membalas senyumnya.
“Baiklah, Hanafie. Kita harus berpisah di sini sekarang.” Kataku, sekali lagi. “Sampai jumpa.” Lalu aku melangkah menuju ke keretaku. Dan ketika aku menoleh kepadanya, dia sudah tidak ada di tempatnya. Hatiku sedikit kecewa. Beginilah, jika ada pertemuan pasti ada perpisahan. Aku sering mengalaminya. Jadi aku memantapkan langkahku menuju pintu keretaku.
Aku menemukan tempat dudukku. Di sebelah jendela. Sedangkan di sebelahnya masih kosong. Lalu aku segera menempati kursiku. Dan karena di sebelah jendela, aku bisa bebas melihat ke luar kereta. Mataku masih mencari sosoknya. Hanafie. Namun aku tidak menemukannya hingga speaker memperdengarkan suara yang mengumumkan bahwa keretaku akan berangkat. Sayang sekali.
Aku mengambil surat kabar yang kubeli tadi pagi namun belum sempat kubaca. Aku  membuka lebar-lebar koran itu hingga menutupi diriku . Headline-nya adalah harga daging sapi yang menembus harga seratus ribu rupiah di pasaran. Ya biasalah, masa-masa sebelum puasa memang selalu seperti ini, batinku. Tadi aku juga membicarakannya dengan Hanafie. Lalu aku melanjutkan bacaanku ke berita yang lainnya. Namun aku tidak bisa fokus karena keretanya bergoyang tidak nyaman. Jadi aku menutup koran itu. Melipatnya dengan rapi dan menyimpannya kembali ke dalam tasku.
Aku berencana untuk memejamkan mataku setelah itu sebelum aku menyadari bahwa ternyata di sampingku sudah ada orangnya. Dia sedang membaca majalah olahraga dan tidak mempedulikanku. Tapi aku tahu siluet wajah dari samping itu. Aku melihatnya satu jam yang lalu. Di warung kopi di depan stasiun.
“Hanafie?” sapaku.
Dia mengangkat wajahnya dari majalah yang asyik ditekuninya itu. Lalu wajahnya nampak terkejut melihatku.
“Ratri?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Ternyata kereta kita sama.” Katanya sambil tertawa kecil. “Tunggu. Jangan-jangan tujuan kita juga sama?” dia mengira-ngira.
“Kamu mau ke mana?” aku menanyakan tujuannya.
“Bandung.” Jawabnya singkat. “Kamu?”
Aku tersenyum mendengarnya. Lalu berkata, sekali lagi, “Wah… sama…”
Dan sepertinya pembicaraan kami tidak akan berhenti sampai di situ.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar